08 January 2020, 23:11 WIB

KLHK: Indonesia Ngotot Kejar Target Pengurangan Emisi 29%


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

Dok KLHK
 Dok KLHK
 Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong (kanan) bersama Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar

WAKIL Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengatakan Indonesia memastikan komitmennya dalam rangka pengurangan emisi yakni target 29% mengurangi emisi dengan cara sendiri dan 41% dengan dukungan dari negara lain.

“Kami ingin fokus menjalankan penurunan emisi 29% itu dengan upaya sendiri dan 41% dengan internasional sistem,” kata Alue di Gedung KLHK, Rabu (8/1) dalam diskusi dibalik panggung negosiasi perubahan iklim UN Climate Change COP25 atau Konferensi Perubahan Iklim di Kota Madrid, Spanyol.

Dia menyebut, pihaknya berkomitmen dengan upaya penuruan emisi yang telah ditetapkan untuk segera diimplimentasikan.

“Karena Paris Agreement telah kita ratifikasi melalui UU nomor 16 tahun 2016, karena itu sudah ditetapkan UU jadi target kita kejar dulu, “ sebutnya.

Menurutnya, eropa berhasil menaikan emisi menjadi 50% pada tahun 2050. Namun pihaknya tidak mempersoalkan langkah tersebut. Bahkan beberapa negara kecil juga melakukan usaha yang serupa.

“Jadi kita minta semua negara komit dulu dengan yang telah ada sekarang. Yang ada saja belum melaksankannya, prinsipnya kita sudah studi banding dan kita akan mewujudkan itu,” lanjutnya.

Dia menambahkan pada Maret mendatang, pihaknya akan melakukan update implementasi emisi Indonesia tersebut.

“Ini jangan diubah, sambil kita review. Memang ini tidak cukup, tetapi nanti akan dinaikan lagi. Kita ingin negara maju yang fokus dan ambisi lebih tinggi karena mereka yang wajib (kontributor),” pungkasnya.

Diberitakan, Indonesia berharap konferensi perubahan iklim Conference of the Parties (COP) ke-25 tidak mengalami deadlock seperti tiga tahun terakhir. Pasalnya, penerapan Paris Agrement akan dilakukan pada Januari 2020.

National Focal Point UNFCCC Indonesia, Ruandha Agung Su-gardiman, mengatakan hal itu di sela pembukaan COP 25 di Ifema, Madrid, Spanyol, kemarin.

"Kita harus upayakan bilateral, negosiasi informal. Kita secara bilateral sudah ada kesepakatan dengan Norwegia, Inggris, danJerman. Non-market, posisi Indonesia itu aman, jadi kita ikuti. Kasihan negara-negara yang masih di bawah kita, harus dukung mereka," ujar Agung kepada wartawan.

Menurutnya, ada sekitar 40-50 negosiator yang diturunkan pada COP 25 untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia. Agung menilai konferensi kali ini sangat penting karena sudah tiga tahun terakhir deadlock, ditambah lagi tahun lalu Amerika Serikat menyatakan keluar dari Paris Agrement.

Indonesia, lanjutnya, menargetkan menurunkan emisi hingga 29% dengan upaya sendiri. Namun, bila mendapat dukungan dari negara lain, bisa mencapai 41%. Meski begitu, Agung menyatakan Indonesia tak mau banyak berambisi di sektor market, tapi lebih menitikberatkan ke non-market.

Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar mengungkapkan Indonesia harus ngotot dalam negosiasi menentukan kewajiban negara-negara di dunia. Pasalnya, Indonesia berperan sangat strategis dan diperhitungkan.

Terpisah, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong menyatakan kesiapan Indonesia dalam upaya diplomasi penanggulangan perubahan iklim pada COP 25.

"Kesiapan Indonesia antara lain secara materi untuk debat pada hard diplomacy dan kesiapan Paviliun Indonesia sebagai soft diplomacy. Kita punya 40-70 negosiator yang terbagi dalam 13 tematik negosiasi yg akan kita perjuangkan di COP 25," ujar Alue.

Sebanyak 197 negara menghadiri pembukaan COP 25. Tahun ini, The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengusung tema Time for action dan akan membahas langkah nyata mewujudkan Artikel 6 Paris Agrement, menyangkut implementasi nationally determined contribution (NDC) pengurangan emisi. Reduksi emisi bisa ditransfer antarnegara dan diperhitungkan di NDC. (OL-8)

BERITA TERKAIT