09 January 2020, 05:00 WIB

Cadangan Devisa Perkuat Stabilitas Makro


Hilda Julaika | Ekonomi

 ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt/17
  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt/17
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko

BANK Indonesia (BI) mencatat jumlah cadangan devisa Indonesia sebesar US$129,2 miliar hingga akhir Desember 2019, atau naik US$2,6 miliar jika dibandingkan dengan November 2019 sebesar US$126,6 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan tertulis di Jakar-ta, kemarin, menyatakan kenaikan cadangan devisa per Desember 2019 berasal dari penerimaan devisa migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan penerimaan valas lainnya.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pemba-yaran utang luar negeri peme-rintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ujar Onny.

Bank Indonesia, menurut dia, menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik," pungkas Onny.

Saat dihubungi, Kepala Ahli Ekonomi PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BNI) Ryan Kiryanto berharap kenaikan cadang-an devisa tersebut dapat memperkuat stabilitas makroekonomi, termasuk nilai tukar rupiah di tengah semakin tingginya tekanan ekonomi eksternal akibat ketegangan militer Iran-Amerika Serikat.

"Lonjakan cadangan devisa tersebut tentunya mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ryan.

Ia menambahkan, penerimaan devisa migas harus dioptimalkan melalui pemanfaatan laporan devisa hasil ekspor ke dalam negeri.

Bank Indonesia bersama pemerintah, ujar dia, juga harus konsisten menjaga posisi cadangan devisa dalam level memadai untuk mendukung stabilitas ekonomi dan sistem keuangan, serta meyakinkan investor bahwa prospek ekonomi Indonesia ke depan tetap baik.

Ryan mengatakan cadangan devisa yang selalu memadai juga akan mendongkrak kepercayaan pelaku pasar sehingga membantu arah per-gerakan nilai tukar yang terus terapresiasi terhadap dolar AS di sepanjang 2020 ini.

"Kita patut apresiasi upaya BI dan pemerintah untuk menjaga posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2019," ujar Ryan.

Rupiah melemah

Pada penutupan Rabu (8/1) sore, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah seiring eskalasi konflik AS-Iran. Rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0,16% di level 13.900 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya 13.878 per dolar AS.

"Pada Rabu, Iran menembakkan serangkaian roket ke dua pangkalan udara AS-Irak sebagai tanggapan pertamanya terhadap pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani oleh serangan udara AS," kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, kemarin.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah 13.915 per dolar AS. Sepanjang Rabu, rupiah bergerak di kisaran 13.900 per dolar AS hingga 13.938 per dolar AS.

Adapun kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan rupiah melemah menjadi 13.934 per dolar AS dari hari sebelumnya di posisi 13.919 per dolar AS. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT