09 January 2020, 04:50 WIB

Lari bukan untuk Mengalahkan Diri


(*/M-1) | Weekend

"TAKLUKAN dirimu", "uji batas dirimu", begitulah kata-kata tantangan yang digemborkan beberapa merek perlengkapan olahraga. Kata-kata itu juga kerap diucapkan para kaum urban yang sedang keranjingan olahraga lari.

Di satu sisi kata-kata itu memang bisa membuat orang terpacu untuk tidak cepat menyerah. Namun, menurut pendiri Gantarvelocity, Agung Mulyawan, prinsip itu tidak tepat. Malah jika dilakoni kebablasan, slogan itu bisa menjuruskan Anda pada bahaya.

"Lari adalah bukanlah soal menaklukkan diri hingga pada titik batas maksimumnya ataupun mendapatkan torehan waktu terbaik yang dapat dipamerkan kepada teman dan kolega, tapi lebih kepada sebuah upaya untuk mengetahui batas diri atau dalam istilah lainnya adalah untuk tahu diri," ungkapnya.

Saat batas diri didorong sampai batas maksimal atau bahkan memaksa melampaui, maka risiko cedera sangat besar. Jika demikian, alih-alih membuat sehat, olahraga justru membuat Anda sakit dan bisa membuat dampak permanen.

Untuk mengetahui batas diri itulah peran pelatih dibutuhkan. Oleh karena itu, Agung mengungkapkan jika ia selalu menyarankan agar orang yang ingin mendalami olahraga secara serius untuk mencari pelatih sebagai langkah pertama. Pelatih juga yang dapat mengingatkan Anda tentang tujuan utama berolahraga.

"Seorang pelatih yanng akan membimbing Anda mengupayakan tujuan yang Anda inginkan. Banyak pelari yang lupa dengan tujuan awal mengapa ia menekuni olahraga ini. Tujuan itu mungkin tergantikan dengan bayang-bayang sesaat, seperti rekor baru atau gelar juara yang didapatkan. Padahal, prinsip dari olahraga ini adalah mengenal batas diri," terang Agung yang mendirikan Kids Athletics RACe pada 2011.

Menamatkan suatu rute maraton dengan catatan waktu tertentu kadang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri para penghobi lari. Namun, bila tidak dipersiapkan dengan menu latihan yang proporsional dan matang justru risiko cedera menjadi ancaman utama, terutama bagi para pelari baru yang kadang belum bisa menakar batas kemampuannya sendiri.

Agung menjelaskan jika risiko cedera bukan saja terjadi saat lomba. Dalam latihan yang tidak tepat risiko yang muncul sama besarnya.

Cedera karena latihan berlebih (overtraining) memang sudah banyak terdengar. Hal itu banyak dialami pelari pemula yang memaksa diri terus menambah jarak atau kecepatan lari. Padahal, teknik dasar berlari pun belum benar. Akibatnya, saat lomba justru kondisi fisik mereka sudah tidak prima dan jika masih memaksakan diri mengikuti lomba akibatnya bisa semakin fatal.

Namun, ada pula klien-klien Agung yang baru menggunakan jasa pelatih saat mempersiapkan diri untuk ajang maraton.

"Dia (Agung) tahu kemampuan kita, terus bisa mengoreksi apakah latihan kita sudah sesuai dengan pola latihan yang benar atau belum. Mungkin kalau tanpa coach saya akan sembarangan berlatih, bisa jadi tiap hari latihan karena tahunya cuma harus speed. Padahal untuk lari ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, terutama untuk maraton," jelas Ade Oktara, salah satu klien Agung saat ditemui Media Indonesia dalam sesi latihan bersama Gantarvelocity, Jumat (3/1). Ade berniat ikut Tokyo Marathon pada 1 Maret nanti.

Lain lagi pengalaman dari Amanda (30), pelari dari Senayan Runners. Perempuan asal Jakarta Selatan ini sedang mempersiapkan diri untuk maraton pertamanya. Sebagai seorang pelari pemula, ia direkomendasikan rekan-rekannya untuk menyewa seorang pelatih yang dapat membenarkan teknik berlarinya agar tidak cedera saat di event maraton yang sebenarnya.

"Kalau kita latihan sendiri untuk olahraga yang endurance-nya tinggi itu justru berisiko ya. Saya orang awam, saya enggak bisa juga mendesain periodisasi latihan sendiri. Jadi memang tidak ada pilihan lain selain cari coach untuk menghindari risiko cedera itu. Targetnya untuk finis saja tanpa cedera karena saya masih mau lari habis ini," jelas Amanda.

Pernyataannya pun diamini Agung. Ia menekankan bagi semua penggemar olahraga bahwa tujuan utama haruslah kesehatan, bukan gengsi sesaat. (*/M-1)

Nama:

Agung Mulyawan

Tempat, tanggal lahir:

Bogor, 14 Maret 1990

Karier:

Pendiri Kids Athletics RACe 2011

Pendiri Gantarvelocity 2014-sekarang

Pelatih Nike+ Run Club Jakarta 2011-sekarang

Pelatih pelatnas atletik (PB PASI) 2017-sekarang

Pelatih lari jarak jauh (maraton) Sea Games Kuala Lumpur XXVIIII-2017

Pendiri Agung Mulyawan Track Club (AMTC) 2018

Sertifikat

Anatomy, Theory, and Practice of Weight Training Program 2011

International Association of Athletics Federation (IAAF) CECS Level 1 2014

International Association of Athletics Federation (IAAF) CECS Level 2 2018

BERITA TERKAIT