08 January 2020, 23:40 WIB

BEI Undang UKM Masuk Bursa


Despian Hidayat | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Bursa Efek Indonesia

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk masuk ke bursa saham guna memperoleh pendanaan dari pasar modal. BEI memastikan ada tempat bagi UKM di bursa sama seperti perusahaan besar lainnya.  

“Kita sudah memperlihatkan bahwa bursa bukan hanya tempat untuk perusahaan besar. Kita menyediakan tempat yang sama dan ini adalah rumah untuk tumbuh bersama para investor,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna  dalam seminar di Gedung BEI, Rabu (8/1).

Lebih lanjut, Nyoman mengatakan bahwa UMKM bisa mencatatkan diri di BEI melalui IDX Incubator atau program inkubasi dari BEI yang menampung UKM yang terletak di Jakarta, Surabaya dan Bandung.
“Kenapa ada IDX incubator? Kita ingin mencari ke daerah, perusahaan yang layak untuk di-grooming (kembangkan). IDX Incubator jadi salah satu fasilitas agar perusahaan bisa masuk papan akselerasi,” lanjutnya.

Dengan memasuki papan akselerasi, pelaku UKM memiliki kemungkinan besar untuk dipromosikan dan masuk ke papan pencatatan.

“Kalau sudah masuk ke papan akselerasi dan growth, serta pada titik tertentu memenuhi papan pengembangan, kita akan promosikan. Dalam hal pengembangan luar biasa, mereka bisa langsung ke papan pencatatan,” ujar Nyoman.

Nyoman juga mengatakan bahwa persyaratan untuk memasuki bursa tidak terlalu sulit. Yang pasti perusahaan telah  memiliki Good Corporate Governance atau tata kelola perusahaan yang baik. Guna membangun tata kelola itu BEI memberikan waktu satu tahun.

“Kalau perusahaan kecil kami kasih waktu satu tahun dan kalau menengah enam bulan. Kita harus perhatikan bahwa karakteristik UMKM ini berbeda dan tidak bisa kami samatarakan,” ujarnya.

BEI membedakan pengaturan yang dipergunakan dalam pencatatan saham oleh UKM. Bagi UKM pencatatan akan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) nomor  53. Adapun untuk perusahan besar diatur melalui POJK No 7.

“Ini peraturan yang berbeda sehingga memudahkan mereka untuk masuk ke papan akselerasi,” tutup Nyoman.


IPO PGJOI

Rabu (8/1), BEI kedatangan emiten baru yakni PT Tourindo Guide Indonesia Tbk yang merupakan perusahaan rintisan. Start up dengan merk dagang Pigijo ini mendapatkan kode emiten PGJO.

Perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa digital travel Indonesia melalui aplikasi Pigijo menawarkan Rp150 juta saham baru kepada publik.
Dengan harga Rp80 per saham, perseroan meraup dana sebesar Rp12 miliar dari IPO.

CEO Pigijo Claudia lngkiriwang mengatakan, dengan masuknya Pigijo di bursa, start up itu dapat dimiliki bersama oleh masyarakat luas. Langkah ini juga ditujukan pihaknya untuk memberikan kontribusi membangun ekosistem pariwisata dari Sabang sampai Merauke.

Dana yang diperoleh dari hasil IPO akan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan seperti biaya pemasaran dan promosi, biaya sewa, serta biaya operasional guna mendukung kegiatan usaha perseroan. Claudia optimistis sektor pariwisata bakal menjadi primadona pemasukan devisa negara yang juga akan berdampak positif kepada Pigijo.

“Pigijo memberikan jawaban untuk mendukung penuh Kemenparekraf dengan memberikan keunggulan kompetitif untuk para stakeholder pariwisata,” lanjutnya. (E-1)

BERITA TERKAIT