08 January 2020, 19:18 WIB

Riset Farmasi Perlu Fokus Pada Jenis Penyakit yang Banyak Diidap


Gana Buana | Humaniora

KEMENTERIAN Riset dan Teknologi mendukung adanya hilirisasi riset obat modern asli Indonesia (OMAI). Namun, Menteri Ristek Bambang Brodjonegoro meminta industri farmasi fokus untuk menemukan obat baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Tadi misalnya saya waktu diskusi dengan mereka minta fokus dulu pada penyakit apa yang paling banyak di Indonesia, berarti kebutuhannya paling tinggi,” ungkap Bambang saat berkunjung ke Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Group, di Jababeka 2, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Rabu (8/1).

Dengan adanya pengelompokan penyakit, lanjut Bambang, bisa difokuskan kebutuhan riset obat yang dibutuhkan. Pemerintah pun akan memberikan dukungan bagi pihak yang konsisten melakukan riset dan pengembangan (R&D) di bidang farmasi lokal.

“Investasi risetnya memang mahal, kami juga ingin ada pengurangan pajak. Dari situlah bentuk dukungan pemerintah, sehingga investor tidak usah khawatir.

Bambang juga memberikan apresiasi kepada Dexa Group yang telah mengupayakan penelitian dan pengembangan produk farmasi untuk menjadi produk yang bertaraf internasional. Hal ini dinilainya membawa kemajuan bagi Indonesia dengan keunggulan yang inovatif dan berdaya saing.

Baca juga : PBNU Kaji Persoalan Pengurangan Peran Perizinan Obat BPOM

“Langkah ini merupakan wujud hilirisasi industri seperti yang diharapkan oleh pemerintah. Saya melihat Dexa Group telah menghasilkan produk riset dan teknologi yang inovatif berbahan baku keanekaragaman sumber daya biodiversitas asli Indonesia. Tentunya ini menjadi peran pemerintah untuk membantu hilirisasi industri agar semakin banyak dikonsumsi, dalam hal ini kami akan mengusulkan penggunaan obat-obatan Fitofarmaka di program kesehatan Pemerintah JKN,” kata dia.

Menurut Executive Director DLBS Raymond Tjandrawinata, sebagai organiasi riset bahan alam saat ini DLBS sudah menghasilkan 18 produk berizin edar Fitofarmaka dari 26 produk fitofarmaka di Indonesia.

Upaya itu merupakan langkah mendorong kemandirian bahan baku obat nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

“Ini juga memberdayakan petani hingga distributor,” kata dia.

Melalui DLBS, kata dia, Dexa Group melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan persediaan farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang berasal dari makhluk hidup.

Di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari DLBS ini menghasilkan produk berizin edar Fitofarmaka.

“Ke depan kita mau jadi pelopor dalam penelitian obat berbahan herbal,” tandas dia. (OL-7)

BERITA TERKAIT