08 January 2020, 15:50 WIB

Sedang Dikembangkan, Baterai Belerang yang Tahan Nyala 5 Hari


Galih Agus Saputra | Weekend

TEKNOLOGI baterai kian canggih. Kini ilmuwan Monash University, Australia, sedang mengembangkan baterai lithium-sulfur yang diklaim jauh lebih unggul dari baterai lithium-ion yang kini menjadi andalan.

Baterai generasi baru itu dikatakan dapat beroperasi 5 hari tanpa isi ulang. Dengan daya besar itu, baterai tersebut juga bisa menjadi pengisi daya pada kendaraan listrik, bahkan awet untuk berkendara sejauh lebih dari 620 mil atau sekitar 997km.

Menurut para ilmuwan, sulfur pada dasarnya memiliki potensi besar dalam teknologi baterai karena kepadatan energinya yang tinggi. Baterai lithium-sulfur mampu menyimpan hingga 10 kali lebih banyak energi daripada baterai lithium-ion.

Akan tetapi, baterai lithium-sulfur juga memiliki kekurangan yaitu mudah kehilangan daya selama siklus pengisian dan pemakaian. Peningkatan volume elektroda adalah yang menjadi penyebab utama 'kekacauan’ tersebut, khusunya dalam aspek penyimpanan daya.

Oleh karena itu, saat ini tim ilmuwan lantas menyiasatinya dengan menciptakan ikatan di antara partikel sulfur. Rekayasa itu dilakukan agar setiap partikel memiliki ruang yang cukup untuk mengembang sekaligus berkontraksi. Hasil akhir yang diharapkan dari rekayasa itu ialah, baterai dapat memiliki kemampuan menyimpan daya dengan umur panjang sekaligus kapasitas yang lebih besar.

Atas dasar inovasi tersebut, tim penelitian kini mendapat dukungan dari pemerintah setempat dan sejumlah mitra internasional. Mereka juga diharapkan dapat segera membawa teknologinya ke pasaran. Saat ini, tim Monash University sudah mengajukan paten untuk model baterai itu.

"Tim peneliti kami telah menerima lebih dari $ 2,5 juta untuk pendanaan dari pemerintah dan mitra industri internasional, untuk menguji coba teknologi baterai ini pada mobil dan jaringan lainnya mulai tahun ini. Ini yang paling membuat kami bersemangat,” kata salah satu profesor dari Monash University, Australia, Mahdokht Shaibani.

Peneliti juga menjelaskan bahwa baterai lithium-sulfur memiliki dampak yang lebih kecil terhadap lingkungan, ketimbang produk lithium-ion yang mana prosesnya berbasis air. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa belerang harganya juga lebih murah, sumbernya melimpah, dan seringkali menjadi produk yang dikesampingkan di antara sekian banyak proses industri gas alam. (M-1)

BERITA TERKAIT