08 January 2020, 14:46 WIB

Psikolog Sebut Reynhard Sinaga Alami Sindrom Inferioritas


Atalya Puspa | Humaniora

Medcom
 Medcom
Ilustrasi pemerkosaan

PSIKOLOG Forensik Reza Indragiri Amriel menilai kejahatan seksual yang dilakukan Reynhard Sinaga merupakan manifestasi dari sindrom inferioritas.

Dirinya menjelaskan, hal itu terlihat dari modus Reynhard yang memulai aksi dengan membangun pertemanan. Dalam waktu singkat, Reynhard merasa diterima oleh korban dan mencoba menguasai korban dengan melakukan pemerkosaan.

"Merasa diterima dan menguasai. Saya bayangkan itu sebagai manifestasi inferiority complex yang dikompensasi lewat perilaku jahat dalam rangka memperoleh sensasi superioritas," kata Reza kepada Media Indonesia, Rabu (8/1).

Selain itu, indikasi Reynhard mengalami sindrom inferioritas didukung pula dari bukti rekaman-rekaman video hubungan pelaku dan korban yang dikumpulkan laksana portofolio.

Dirinya menerangkan, sindrom inferioritas merupakan kondisi psikologis di alam bawah sadar, ketika seseorang merasa lemah atau lebih rendah dibanding pihak lain.

Dalam kasus Reynhard, sindrom inferioritas dimanifestasikan dengan cara melakukan pemerkosaan dalam keadaan korban tak sadarkan diri. Hal itu kemudian menimbulkan rasa superior dalam diri Reynhard.

Baca juga:  PPI Inggris Komentari Aksi Reynhard Sinaga di Manchester

Reza menyatakan, kepuasan seksual yang diterima Reynhard bukan menjadi hal penting. Yang jelas, aksi bejat pemerkosaan merupakan sebuah tidak kejahatan yang tidak dapat termaafkan.

"Puas atau tidaknya (pelaku) dikesampingkan. Apalagi dengan adanya hukuman seumur hidup. Kita tak usah memusingkan rehabilitasi bagi pelaku," ucapnya.

"Untuk apa bicara terapi? Hukum saja seberat-beratnya. Andai Inggris mempraktikkan hukuman mati, lakukan saja," tegas Reza.

Terlebih lagi, Reza juga menyoroti dampak psikis yang akan dialami korban. Pada dasarnya, menjadi korban kejahatan seksual adalah memalukan sekaligus menyedihkan. Itu sebabnya banyak korban tidak melapor.

Dalam kasus Reynhard, korbannya adalah laki-laki, yang secara budaya dianggap sebagai jenis kelamin lebih unggul. Baik secara fisik, psikis, dan sosial.

"Sekarang, gabungkan situasi lelaki menjadi korban kejahatan seksual. Efek traumatisnya tentu lebih tinggi. Tekanan tidak hanya datang dari pengalaman dijahati secara seksual, tetapi juga dari kodrat selaku jenis kelamin unggul," tuturnya.

"Kasus perkosaan adalah kasus dalam ruang tertutup. Korban cenderung mengalami kebinasaan mental. Pasti banyak kasus serupa. Pasti. Tapi tak terungkap," pungkasnya.

Sebagai informasi, kasus pemerkosaan berantai yang dilakukan Reynhard Sinaga, 36, mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Manchester menuai kecaman dari berbagai pihak.

Hingga saat ini, Reynhard tercatat telah memerkosa sebanyak 195 laki-laki di flat miliknya, dan mengabadikan aksi bejatnya dalam bentuk video.(OL-5)

BERITA TERKAIT