08 January 2020, 12:16 WIB

Sejumlah Wilayah di Sulsel Terancam Banjir


Lina Herlina | Nusantara

MI/Lina Herlina
 MI/Lina Herlina
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah (berompi) memeriksa kesiapsiagaan peralatan mengantisipasi bencana, di Lapangan Karebosi Makassar.

SEJUMLAH daerah di Sulawesi Selatan, termasuk Kota Makassar terancam banjir, jika hujan terus turun. Terlebih lagi, hulu sungai mulai bermasalah sehingga tidak bisa menahan air.

"Yang menjadi pemicu banjir, yaitu resapan air kurang, alih fungsi lahan, sungai jadi dangkal. Dan karena ulah manusia itu sendiri," kata Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, Rabu (8/1/2020) saat memimpin Apel Siaga Bencana di Lapangan Karebosi Makassar.

Hadir dalam Apel Siaga Bencana yaitu Dinas Sosial, taruna siaga bencana (Tagana), Dinas Sosial, BPBD, Dinas Kesehatan, TNI dan Polri.

"Penyebab banjir untuk wilayah Gowa dan Makassar jadi perhatian. Itu dari dulu DAS Jeneberang sudah super kritis, indikatornya pendangkalan  Cekdam Jeneberang. Padahal cekdam kita itu multipurpose untuk 100 tahun, sekarang baru 20 tahun mulai dikeruk karena daya tampung sungai yang  mengalami pendangkalan," urai Nurdin.

Pada kesempatan itu, Nurdin memeriksa kesiapan tim dan peralatan tanggap darurat. Mulai dari alat evakuasi hingga persiapan logistik.

"Jadi saya ingin sampaikan, kenapa kita harus siap siaga menghadapi curah hujan yang ekstrem. Kalau curah hujan normal bili-bili ini masih mampu menahan air," lanjut Nurdin.

Tahun ini, tambah Nurdin, pemerintah memulai pembangunan Bendungan Jenelata di Gowa.

"Kita butuh anggaran Rp1,7 triliun untuk pembangunan itu. Kalau ini selesai, kita punya rasa aman karena Bendungan Bilibili mengalami pendangkalan."

Bahkan kata Nurdin, hampir semua DAS di Sulsel, seperti DAS Walennae, DAS Saddang dan Jeneberang rawan meluap dan mengakibatkan bajir, akibat perambahan hutan.

"Untungnya sekarang, kewenangan tentang kehutanan sudah di tangan provisi, bukan di kabupaten/kota. Dan kini kita mulai konsolidasi dengan kabupaten/kota untuk melakukan pencegahan, termasuk melakukan mitigasi bencana," tambah Nurdin.

Saat ini, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, mulai mengembalikan fungsi lahan yang rusak.

baca juga: Walkot Tasikmalaya Desak BPJS Kesehatan Hapus Layanan Berjenjang

"Kita rasakan sekarang, ketika masuk musim kemarau kita kekurangan air, ketika musim hujan kelebihan air. Keseimbangan alam perlu dikembalikan. Semuanya menjadi mudah ketika terjadi apa-apa. Semua mengambil peran," jelas Nurdin.

Berdasarkan data Info Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang melaporkan muka tinggi air Bendungan Bilibili setinggi 83,93 meter di atas permukaan laut (mdpl), dari muka tinggi air normal 99,5 mdpl. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT