08 January 2020, 07:45 WIB

Polder Dilupakan Untuk Solusi Banjir Jakarta


Ardi Teristi Hardi | Megapolitan

MI/Galih Pradipta
 MI/Galih Pradipta
Ilustrasi -- Sejumlah masyarakat beraktivitas di kawasan Folder air, di Bekasi, Kamis (19/5).

PAKAR UGM menilai banjir yang terjadi di Ibu Kota harus diatasi melalui model pengendalian air secara terpadu (water resource management). Salah satunya adalah pembangunan polder.

"Salah satunya solusinya adalah sistem polder," ungkap pakar teknik sumber daya air UGM, Prof Budi Santoso Wignyosukarto, di kampus UGM, kemarin.

Sistem ini, jelas Budi, merupakan kombinasi tanggul dan pompa untuk mengatasi banjir. Konsep semacam ini juga digunakan di kota-kota di Belanda. Saat membangun Batavia, Belanda pun sudah memikirkan hal tersebut dengan membuat polder-polder. Sayang tidak dirawat.

Polder dibuat dalam ukuran yang tidak terlalu besar dan dibuat di sejumlah tempat dengan ketinggian muka air tanah lebih rendah daripada muka air laut.

Secara keseluruhan, Budi menyebut, mengatasi banjir merupakan salah satu bagian dari pengelolaan sumber daya air sehingga harus dilakukan terpadu secara hidrologis, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Banjir di Jakarta yang terjadi pada awal tahun disebabkan curah hujan yang sangat tinggi. Di sisi lain, sistem drainase internal tidak mampu mengalirkan air dengan baik.

Ia menyebut, manajemen penggunaan tanah untuk daerah resap-an air serta manajemen manusia dalam mengelola sumber daya air juga penting. Cara mengurangi banjir, misalnya, dengan memperbanyak ruang terbuka hijau untuk daerah resapan.

Prof Bambang Triatmodjo dari Teknik Sipil dan Lingkungan UGM menambahkan, pentingnya sistem drainase yang baik untuk meng-antisipasi hujan lebat di wilayah Jakarta. Sistem drainase harus terus dirawat dan dibersihkan dari sampah-sampah dan endapan lumpur.

Di sisi lain, normalisasi juga diperlukan agar air dari wilayah atas Jakarta jangan sampai meluap di Jakarta sehingga mengakibatkan banjir bandang. Jadi, satu-satunya mengatasi banjir Jakarta ialah sistem polder itu tadi. Air hujan yang jatuh dialirkan ke kolam kemudian dipompa keluar ke laut atau sungai. "Saya kira kalau tanpa ini (polder), enggak mungkin Jakarta enggak banjir," kata dia.

Kemang

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengklaim secara umum wilayah Jakarta tidak tergenang banjir pascahujan deras pada Rabu (1/1), ternyata tidak demikian faktanya.

"Hujan yang sedemikian deras, tapi kenapa Kemang tidak banjir, karena pompa mobile kami bekerja di Kemang Raya," kata Anies saat ditemui di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (5/1).

Dari pengamatan di lapangan, justru banjir sempat melanda kawasan Kemang beberapa saat setelah hujan deras datang.

Paianto, warga Jl Kemang Timur, Jakarta Selatan menjelaskan kawasan rumahnya sempat diterjang banjir setinggi 2 meter lebih. Kondisi air setinggi itu terjadi pada Rabu pukul 08.00 WIB. "Dari pukul 03.00 pagi air memang sudah masuk karena hujan deras kan, tapi semakin lama kok semakin tinggi. Pukul 08.00, saya lihat air sudah setinggi 2 meter," ungkap Paianto saat ditemui di rumahnya.

Sementara itu, anggota Tim Advokasi Korban Banjir DKI Jakarta 2020 Diarson Lubis mengungkapkan, ada 300 warga yang melapor gugatan class action terkait banjir. Laporan ditutup pada Kamis (9/1/2020) "Kami akan mendaftarkan gugatan clas action-nya pada Jumat, pada 10 Januari 2020," tegasnya. (Ssr/Ins/J-3)

BERITA TERKAIT