08 January 2020, 06:10 WIB

In Memoriam Mahaguru Muhammadiyah


David Krisna Alka Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity dan PP Pemuda Muhammadiyah, saya tidak bisa memejamkan mata. | Opini

MALAM setelah menerima kabar wafatnya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Yunahar Ilyas (2/1/2020), saya tidak bisa memejamkan mata. Mata tertutup, tetapi pikiran terbuka. Segera saya bangkit dan mengetik. Biasanya, obat mujarab gelisah tidak bisa tidur itu ialah membaca atau menulis.

Alkisah, pertama kali saya bertemu Buya Yunahar saat menjadi staf pribadi mantan Menteri Agama Republik Indonesia, almarhum Pak Tarmizi Taher. Pada 2003-2006, bersama Pak Tarmizi dan beberapa teman, kami mendirikan dan menggerakkan Center for Moderate Moeslim (CMM) dan Yayasan Dakwah Islam Malaysia-Indonesia (YADMI). Setelah itu, saya menemani Pak Tarmizi ketika menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (2006-2011).

Dalam rangkaian kegiatan lembaga-lembaga dakwah itulah saya bertegur sapa dengan Buya Yunahar. Tidak ada ruang pertemuan khusus dan panjang saya bersama Buya Yunahar. Hanya menyapa dan berjabat tangan begitu saja saat jumpa. Entah karena saya malu atau angkuh. Pastinya, keangkuhan kala muda merupakan kerugian yang abadi.

Tak terasa waktu berjalan begitu saja. Saya menyesal belum meneruskan jalan dakwah yang dilakukan kedua ulama asal bumi Minang itu. Saat melepas jenazah Buya Yunahar di Masjid Gedhe, Kauman, Yogyakarta, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir berkata, generasi muda perlu mencontoh tindak dan akhlak Buya Yunahar. Ilmu keislaman dan wawasan Buya Yunahar sangat luas, terutama dalam ilmu tafsir.

Beliau merupakan Guru Besar bidang Ulumul Qur'an dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, berperan merumuskan tafsir At-Tanwir yang menjadi pedoman tafsir Alquran di Muhammadiyah. Buya Yunahar, sampai akhir hayatnya, menjadi ulama terkemuka di Majelis Ulama Indonesia.

Muhammadiyah dan bangsa Indonesia kehilangan mahaguru dakwah yang gigih dan juga konsisten berdakwah di akar rumput. Sosok ulama autentik yang berdakwah secara santun dan ramah. Buya Syafi Maarif menyebut Buya Yunahar ialah sosok ulama moderat, pengusung paham keagamaan Islam wasatiyyah yang tidak ekstrem ke kanan dan tidak ekstrem ke kiri. Ini penting untuk masa depan Indonesia.

Dicari Prof Bahtiar

Dalam waktu yang berdekatan, Muhammadiyah kehilangan dua mahagurunya. Ketua PP Muhammadiyah, Prof Bahtiar Effendy, lebih dahulu wafat di Rumah Sakit Islam Jakarta (21/11/2019). Prof Bahtiar Effendy ialah mahaguru politik Islam di Indonesia.

Testimoni dari tokoh-tokoh nasional tentang Prof Bahtiar telah terkumpul dalam buku Mengenang Sang Guru Politik, Prof Dr Bahtiar Effendy (2020) yang segera diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Kebetulan saya bersama Dekan Fakultas Ilmu Politik UMJ, Ma'mun Murod, menjadi editor buku itu.

Syahdan, saya pertama kali sadar melihat cukup dekat sosok Prof Bahtiar ketika Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta pada 2010. Saat itu Prof Bahtiar sedang duduk di lobi sebuah hotel di Yogyakarta, sepertinya sedang diskusi serius bersama beberapa koleganya. Beberapa kali saya juga mengikuti ketika beliau menjadi narasumber di PP Muhammdyah.

Pernah saya berjumpa dengan almarhum saat pertemuan informal kader muda Muhammadiyah di kediaman Mas Hajriyanto Y Thohari, Prof Din Syamsuddin, dan Bang Rizal Sukma. Terakhir saya diajak tokoh Jaringan Intelektual Muda Muhamadiyah, Mas Ahmad Fuad Fanani, ke rumah Prof Din dalam rangka persiapan pernikahan anak Prof Bahtiar.

Prof Din ialah tokoh yang sangat akrab dengan almarhum. Dalam kata pengantar buku Mengenang Sang Guru Politik, itu, Prof Din mengatakan penggagas Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) ini ialah man of idea and man of action sekaligus.

Alhasil, sama dengan Buya Yunahar, saya belum pernah mengalami pertemuan khusus dan membuat saya menjadi akrab dengan Prof Bahtiar. Pernah suatu ketika, Mas Fuad Fanani menyampaikan bahwa saya dicari oleh Prof Bahtiar. Entah dicari untuk apa dan kenapa.

Kedekatan saya bersama Prof Bahtiar malah terasa di Facebook. Hampir setiap saya mengunduh tulisan-tulisan saya yang dimuat media Nasional di Facebook, Prof Bahtiar berkomentar, minimal memberi like. Gara-gara ini, saya sempat besar diri, mungkin karena sering pamer karya tulisan, makanya dicari Prof Bahtiar. Prof Bahtiar termasuk cukup rajin di Facebook.

Seorang kawan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia pernah cerita kepada saya betapa bangganya dia masuk kelas Prof Bahtiar dan begitu kagumnya dia terhadap pemikiran Prof Bahtiar. Katanya, dengan mengutip pernyataan Prof Bahtiar, politik yang kelihatan itu bukanlah politik yang tampak sebenarnya. Politik sebenarnya itu ialah di balik yang tampak itu. Kawan kami itu terkesima dengan cakrawala pengetahuan politik yang dia terima ketika belajar dari Prof Bahtiar.

Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM) Amiruddin Al Rahab juga pernah cerita. Ketika masuk kelas Prof Bahtiar, mereka pernah berdebat panjang. Debat soal politik rasional dan politik tidak rasional. Prof Bahtiar dosen yang sangat cerdas. Imajinasi politiknya luar biasa. Begitulah kekaguman itu keluar dari ungkapan komisioner ini.

Dua kisah itu baru cerita murid-murid Prof Bahtiar di mata kuliah Teori Ilmu Politik kampus UI. Belum lagi kisah-kisah di kampusnya tercinta, UIN Syarif Hidayatullah, kisah kesuksesannya di Pesantren Pabelan, kisah prestasinya di luar negeri, cerita tentang Prof Bahtiar di Muhammadiyah, kisah persahabatan yang tak kunjung padam, dan cerita tentang bagaimana Prof Bahtiar berbagi resah tentang sakitnya, pun kisah kenangan tentang Buya Yunahar.

Selamat jalan dua Mahaguru Muhammadiyah. Semoga mata hati kita selalu terbuka dan pikiran tidak tertutup.

BERITA TERKAIT