08 January 2020, 05:20 WIB

Berharap pada Kekuatan Sel Punca


Atalya Puspa | Humaniora

Dok.MI/Seno
 Dok.MI/Seno
Terapi Sel Punca

Saat ini, terapi sel punca di Indonesia baru dapat dilakukan pada dua bidang, yakni ortopedi dan bedah plastik.

DENNY Irwansyah, 40, mengalami kecelakaan motor pada 2010 lalu. Kedua kakinya lumpuh total. Selain itu, fungsi pencernaannya tidak bekerja maksimal. Berbagai pengobatan telah dilakukan, tapi itu tidak membuahkan hasil.

Pada 2017 atau tujuh tahun setelah peristiwa nahas itu, Denny memutuskan untuk melakukan terapi sel punca di RSCM. Selama tiga tahun Denny merasakan perkembangan yang berarti pada tubuhnya.

"Tahun 2017 implan pertama, 2018 kedua, dan ketiga baru ini 2019 implan ketiga. Memang kalau jalan belum. Tapi setelah 3 kali implan, sudah bisa mulai digerakkan yang kanan," kata Denny kepada Media Indonesia, belum lama ini.

Denny merasakan perkembangan yang pesat dengan terapi sel punca yang dijalaninya. Sel-sel pada kakinya yang selama 6 tahun tidak berfungsi dengan baik, lambat laun kian mebuahkan hasil.

"Saraf sensorik saya semakin membaik. Mudah-mudahan setelah ini perbaikannya lebih bagus," ucapnya.

Terapi sel punca atau yang dikenal dengan stem cell telah lama diteliti di Indonesia. Sejak 2008 hingga kini, di Indonesia terapi sel punca berada dalam ranah penelitian berbasis pelayanan terapi.

Adapun stem cell merupakan terapi untuk memperbarui sel yang spesifik membentuk berbagai jaringan tubuh, seperti tulang, sel otot, sel saraf, sel darah merah, atau sel otak. Sel-sel baru tersebut didapatkan dari jaringan tubuh pasien seperti sumsum tulang belakang.

Di Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo bersama 10 RS lainnya sudah mendapatkan izin menerapkan terapi sel punca secara legal dan telah melayani sebanyak 303 pasien hingga saat ini.

Salah satu peneliti sel punca dari RSCM, Tri Kurniawati, mengungkapkan saat ini, terapi sel punca di Indonesia baru dapat dilakukan pada dua bidang, yakni ortopedi dan bedah plastik.

"Saat ini penelitian berbasis pelayanan sel punca di Indonesia baru bisa di dua bidang, ortopedi dan bedah plastik. Ke depan kita akan kembangkan untuk kanker, diabetes, hingga ginjal," kata Tri.

Tri menjabarkan, terapi sel punca memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan terapi pengobatan lainnya, yakni tidak memiliki efek samping pada tubuh. "Tidak ada penolakan dari tubuh, tidak ada efek samping," sebutnya.

Namun, untuk bisa merasakan manfaat sel punca itu butuh biaya cukup mahal karena teknologi yang digunakan ialah hightech. "Tiap kasus beda. Misalnya, Satu lutut osteoporosis membutuhkan 10 juta sel. Kalau pasien bayar, berarti Rp22 juta satu lutut, dihitung harga satu selnya berapa," beber Tri.

Selain itu, parameter ruangan untuk mengembangkan sel sangat terkontrol dan izin operasional harus didapatkan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

Tri menyampaikan, pelayanan sel punca di Indonesia tengah berproses untuk menjadi pelayanan terstandar yang nantinya dapat dikenakan biaya bagi pasien. Itu karena selama ini, pasien yang melakukan terapi sel punca di Indonesia masih belum dipungut biaya.

Medical tourism

Satu hal yang patut dibanggakan, Indonesia kini telah memiliki pusat produksi sel punca dan produk metabolit nasional yang diinisiasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, dan PT Kimia Farma (persero).

"RSCM sudah begitu dipercaya. Bahkan, luar negeri sudah melirik kita. Korea sudah menyiapkan 12 atlet yang cedera untuk mendapatkan terapi sel punca di Indonesia," kata Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti.

Pusat produksi ini diharapkan juga dapat memberikan dampak sosioekonomi, termasuk medical tourism yang besar. Pasalnya, terapi penyakit degeneratif yang tersedia saat ini umumnya hanya bertujuan mengurangi gejala, tapi tidak menghentikan proses degeneratif itu sendiri.

Selain penyakit degeneratif, kondisi lain seperti trauma, autoimun, dan kanker juga banyak yang bersifat terminal atau tidak lagi memberi respons pada pengobatan konvensional.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Produksi Sel Punca dari FKUI, Ismail, mengatakan Indonesia boleh berbangga telah menjadi salah satu negara yang mampu melakukan terapi sel punca bagi pasien umum di 11 RS. Di beberapa negara lain, pelayanan sel punca masih berada di tahap riset dan belum resmi diberikan untuk pasien umum. (H-2)

BERITA TERKAIT