07 January 2020, 20:58 WIB

Isu Natuna tak Goyahkan Kemitraan Strategis Tiongkok-Indonesia


Antara | Politik dan Hukum

Antara
 Antara
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang

JURU bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang menyatakan bahwa isu Natuna tidak menggoyahkan jalinan kemitraan strategis antara negaranya dan Indonesia yang sudah memasuki tahun ke-70.

"Anda tadi menyebutkan beberapa perkembangan terkini di laut. Yang dapat saya katakan bahwa Tiongkok dan Indonesia telah berkomunikasi tentang hal ini melalui saluran diplomatik," katanya dalam press briefing di Kementerian Luar Negeri Tiongkok di Beijing, Selasa (7/1) petang, mengenai isu Natuna.

Ia mengakui adanya perbedaan perspektif antara kedua negara dalam melihat permasalahan yang sedang menyita perhatian publik di Indonesia itu.

"Namun perbedaan itu sifatnya parsial dan tidak esensial," ujarnya menambahkan.

Justru menurut dia, sebagai sama-sama negara di pesisir Laut China Selatan, Tiongkok dan Indonesia memikul tanggung jawab bersama yang besar dalam memelihara perdamaian dan stabilitas di kawasan.

"Kami selalu memandang hubungan China-Indonesia dari perspektif strategis dan jangka panjang karena kami percaya bahwa Indonesia juga akan fokus pada hubungan bilateral dan stabilitas regional secara menyeluruh, mampu menyelesaikan perbedaan dengan China, dan menciptakan suasana yang kondusif dan menguntungkan kedua negara dalam menyambut perayaan ulang tahun ke-70 hubungan diplomatik ini," kata Geng.

Ia menganggap Indonesia sebagai salah satu negara pertama yang menjalin hubungan dengan China yang kini sudah memasuki tahun ke-70.

"Tahun ini juga merupakan tahun yang penting dalam proses pembangunan masing-masing. Kedua negara telah sepakat mengadakan serangkaian perayaan untuk lebih memperkuat pertukaran dan kerja sama antarkedua belah pihak di berbagai bidang, mempromosikan hubungan bilateral ke tingkat yang baru, dan saling menyuntikkan energi positif," ujarnya.

Sebelumnya Duta Besar RI untuk Tionkok Djauhari Oratmangun mengatakan bahwa pihaknya juga telah mendatangi Kementerian Luar Negeri setempat untuk membicarakan masalah tersebut.

Masalah tersebut kembali mencuat setelah adanya kapal-kapal pencari ikan Tiongkok melakukan aktivitas di perairan sekitar Pulau Natuna dengan pengawalan kapal Badan Keamanan Laut Tiongkok.

Kapal Bakamla Tiongkok tidak bersedia meninggalkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia saat dihalau oleh Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Tjiptadi-381.

Kemlu RI melayangkan nota protes atas insiden tersebut melalui Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta. (OL-11)

 

BERITA TERKAIT