07 January 2020, 19:34 WIB

Modifikasi Cuaca, BPPT Semai Garam hingga ke Selat Sunda


Tri Subarkah | Humaniora

MI/Tri Subarkah
 MI/Tri Subarkah
Kru pesawat CN 295 melakukan penyemaian garam di atas langit Selat Sunda,

BADAN Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI Angkatan Udara kembali melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) pada Selasa (7/1).

Ada dua pesawat yang digunakan dalam operasi tersebut, yakni Casa 212 dan CN 295. Keduanya membawa bahan semai garam (NaCl) dari Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma. Pesawat Casa 212 membawa 800 kg garam, sedangkan CN 295 mengangkut 2,4 ton.

Penyemaian garam dari pesawat Casa 212 masih dilakukan secara manual. Sedangkan untuk pesawat CN 295, garam-garamnya diletakkan ke dalam empat buah console dengan total delapan wadah. Garam tersebut disemai ke luar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Pesawat Casa 212 dan CN 295 pada hari ini masing-masing terbang sebanyak empat kali. Penerbangan kedua CN 295 sempat tertunda akibat hujan deras di Lanud Halim Perdanakusuma dan baru bisa take off sekitar pukul 14.23 WIB.

Penerbangan tersebut diisi oleh 12 kru dari TNI AU dan dua anggota BPPT. Pantauan Media Indonsia, penyemaian garam mulai dilakukan pada pukul 14.50 WIB.

Baca juga : Tekan Curah Hujan Jabodetabek, BPPT Semai 3.200 Kg Garam

Menurut Profesor Meteorologi Klimatologi BPPT, Edvin Aldrian, pesawat CN 295 menyemai garam pada awan cumolonimbus di sekitar Selat Sunda.

"Ke Selat Sunda, ke Lampung Tenggara. Karena kan ada siklonnya di Nusa Tenggara, jadi anginnya ke timur. Jadi kita ke sebelah barat Jakarta," terang Edvin di Lanud Halim Perdanakusuma, Selasa (7/1).

Saat menaburkan garam dari dalam pesawat, para kru memukulkan console yang terbuat dari bahan stainless steel tersebut dengan menggunakan palu.

Menurut Lettu Shahrul Rahmad, salah satu kru dalam penerbangan tersebut, hal itu dilakukan untuk memperlancar jatuhnya garam dari atas pesawat.

"Garamnya ini suka gumpal, karena bentuknya sperti tepung. Kalau dingin dia berubah jadi padat. Jadi untuk antisipasinya, dipukul pakai palu," kata Shahrul.

Edvin beeharap usaha yang dilakukn pihaknya dapat menurunkan hujan disekitar lokasi penyemaian garam. Hal tersebut untuk mengurangi intensitas hujan dari awan yang akan masuk ke Jakarta.

"Kami harap yang turun di sekitar yang disemai, jadi dekat Selat Sunda. Diharapkan hujannya dikurangi agar bisa dijatuhkan sebelum Jakarta.

Baca juga : BNPB Siapkan 6,4 Ton Garam untuk Halau Awan

Sementara itu, Mayor Penerbang Anto Ngimron menjelaskan pesawat yang diawakinya melakukan penyemaian antara ketinggian 10-11 ribu kaki.

"Tadi kita seeding garamnya di ketinggian 10.000 feet, kemudian sesaat kita juga sempat naik ke 11.000 feet yang di area selatan Lampung yang tadi awannya besar-besar di situ, yang arah anginnya mau masuk Pulau Jawa," jelas Ngimron.

TMC dengan menyemai garam masih akan terus dilakukan hingga beberapa hari ke depan. Menurut Edvin, hal tersebut didasarkan oleh perhitungan BMKG.

"Basis berdasarkan BMKG itu masih sampai tanggal belasan Januari, minimal dua mingguan lah," pungkas Edvin.

Pesawat CN 295 kembali mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma tepat pukul 16.00 WIB. (OL-7)

BERITA TERKAIT