07 January 2020, 14:20 WIB

Zona Emosi Membuat Anak-anak Nyaman di Sekolah


mediaindonesia.com | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
SD Muhammadiyah Mantaran, Sleman, menerapkan kegiatan mengenal emosi lewat zona emosi.

ZONA emosi adalah zona yang memfasilitasi anak untuk mengenal emosinya sendiri. Anak-anak didorong untuk mengidentifikasi apa yang dia rasakan seperti marah, sedih, senang, kecewa. Semua emosi dasar tersebut kemudian diekspresikan lewat emoji yang dibuat sesuai kreativitas masing-masing kelas.

Kegiatan mengenal emosi lewat zona emosi ini sepertinya tampak sederhana. Namun ternyata zona emosi dapat menciptakan ekosistem lingkungan positif di sekolah. Salah satu sekolah yang sudah membuktikannya adalah SD Muhammadiyah Mantaran, Sleman.

“Mengenal emosi adalah salah satu dari komponen penting yang harus dimiliki sebelum akhirnya dapat menguasai kemampuan yang lebih kompleks,” jelas Muhammad Nur Rizal, penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Jakarta, Selasa  (7/1).

“Penyediaan ruang semacam ini juga akan memungkinkan anak untuk tidak hanya mengolah pikiran, tetapi juga perasaan. Tidak hanya cerdas secara pikiran, namun cerdas dalam emosi dan sosial,” ujar Rizal

Megah, itulah kesan pertama yang tersirat begitu memasuki gerbang utama SD Muhammadiyah Mantaran. Megah dalam hal ini bukan berarti lengkap dengan fasilitas, namun cerah dan ceria. Hampir setiap sudutnya dihiasi oleh warna-warni cat yang terang dan hidup. Yang pasti tak akan terlupakan yaitu raut wajah bahagia anak-anak ketika mereka tiba di sekolah.

Kemegahan dan kegembiraan SD Muhammadiyah Mantaran ini bukan hasil sulap akan tetapi melalui proses transformasi yang panjang dan tidak mudah.

Pertengahan 2017, sekolah swasta ini sempat kesulitan mencari murid baru karena tidak ada yang tertarik mendaftar. Jumlah murid baru yang datang selalu menurun setiap tahunnya hingga kuota nyaris tidak terpenuhi.

Untung saja, para guru tidak patah semangat dan terus berjuang untuk mengubah sekolahnya agar bisa kembali diminati calon siswa. Perubahan dimulai saat Nuri, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mantaran dipertemukan dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM).

GSM diprakarsai oleh Muhammad Nur Rizal dan sang istri, Novi Poespita Candra pada September 2013. Kala itu GSM sebagai gerakan akar rumput tengah gencar-gencarnya menyebarkan semangat perubahan untuk membuat sekolah lebih menyenangkan.

Platform GSM terbukti mampu meningkatkan kualitas guru serta ekosistem pendidikan di sekolah-sekolah pinggiran.

Nuri bersama sekolahnya resmi bergabung dengan GSM di 2017. Berbagi informasi dilaksanakan dengan menggunakan media sosial antarguru. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan workshop sekolah model GSM.

Sejak saat itu, segenap guru SD Muhammadiyah Mantaran yang semula kesulitan menyusun framework perubahan, kini justru mengalami perubahan mindset tentang pendidikan.

Perubahan dimulai dengan menciptakan ekosistem positif di lingkungan sekolah. Tak hanya pengajar, para guru juga mengajak keterlibatan orang tua dan siswa dalam proses transformasi. Pada saat kolaborasi terjadi maka kepentingan semua pihak akan terakomodasi. 

Secara teknis, metode pembelajaran yang diterapkan melalui GSM mengutamakan karakter dan empati. GSM menerapkan zona emosi setiap pagi sebelum pelajaran dimulai.

"Para siswa diminta mengekspresikan emosinya sehingga teman-teman sekelasnya bisa ikut merasakan apa yang sedang dialami," papar Nuri.

Sejauh ini, GSM telah menyebarkan pengaruh ke berbagai area di Indonesia, termasuk Yogyakarta, Semarang, Tebuireng, Tangerang, hingga beberapa kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Di Yogyakarta, sudah ada 84 sekolah model yang sudah menyebarkan imbasnya kepada lebih dari ratusan sekolah lainnya.(OL-09)

BERITA TERKAIT