07 January 2020, 16:55 WIB

Tanpa Disadari, Manusia Konsumsi Sesendok Mikroplastik Per Hari


Galih Agus Saputra | Weekend

Instagram @plasticfreeto
 Instagram @plasticfreeto
Mikroplastik masuk ke tubuh manusia lewat air, polusi, dan rantai makanan.

JIKA sebelumnya studi-studi mengungkapkan cemaran mikroplastik ke dalam tubuh hewan laut, temuan terbaru lebih mengerikan. Dalam sebuah temuan yang dipublikasikan oleh organisasi non profit lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF), dipaparkan jika mikroplastik juga sudah masuk ke tubuh manusia

 

Dilansir Dailymail, laporan tersebut merupakan gabungan data lebih dari 50 studi tentang mikroplastik atau yang juga didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran di bawah lima milimeter. Laporan itu menjelaskan bahwa setiap minggu, manusia rata-rata mengonsumsi hampir 2.000 potong plastik kecil atau setara plastik seukuran kartu kredit yang beratnya mencapai 5 gram layaknya tutup botol plastik. 

 

Kantor berita Reuters turut mengilustrasikan hal ini, dimana setiap orang rata-rata mengonsumsi potongan plastik kecil sebanyak satu sendok setiap hari.

 

Apabila dikalkulasi dalam seminggu, WWF menjelaskan bahwa setiap orang rata-rata berpotensi mengkonsumsi 1.769 partikel plastik yang berasal dari air saja. Studi itu juga mengungkapkan bahwa dalam satu minggu manusia berpotensi mengonsumsi 182 partikel plastik dari kerang, 11 dari garam, dan 10 dari bir. Dalam sebulan, rata-rata manusia mengonsumsi 21 gram plastik, atau yang kira-kira beratnya sama dengan lima dadu kasino.

 

"Yang kami tahu adalah kita menelannya dan berpotensi menyebabkan keracunan. Itu jelas memprihatinkan," kata, Peneliti dari Universitas Newcastle Australia yang bekerja untuk WWF, Thava Palanisami.

 

Lebih lanjut, Thava menjelaskan bahwa dalam enam bulan, setiap manusia berpotensi mengonsumsi 125 gram serpihan plastik atau yang setara dengan satu mangkuk penuh sereal. Produksi plastik sendiri telah melonjak dalam 50 tahun terakhir, dan mengarah pada meluasnya penggunaan produk sekali pakai murah yang memiliki efek merusak pada lingkungan, termasuk kehidupan di pantai yang pada tahap selanjutnya semakin mengancam habitat satwa liar di laut.

 

Dalam waktu satu tahun, asupan plastik manusia mencapai 250 gram. Asupan tersebut juga berasal dari mikroplastik yang dihirup melalui udara terutama di daerah perkotaan.

 

Direktur Jenderal WWF Internasional, Marco Lambertini lantas menambahkan bahwa temuan tersebut pada kesempatan selanjutnya harus menjadi pemantik bagi pemerintah, maupun para pemangku kepentingan lainnya untuk mengambil tindakan. 

 

"Plastik tidak hanya mencemari lautan dan saluran air kita hingga membunuh kehidupan laut, tetapi juga ada di sekitar kita semua. Kita tidak bisa lepas dari konsumsi plastik, tindakan global sangat mendesak saat ini dan penting untuk mengatasi krisis plastik,” imbuhnya.

 

Plastik konvensional sejatinya tidak dapat terurai. Kantong plastik konvensional yang diklaim mudah terurai pun sebenarnya hanya berubah menjadi potongan-potongan kecil. Hal ini terjadi karena bahan kimia tambahan membuat plastik lebih cepat teroksidasi. Namun kondisi ini sebenarnya tetap berbahaya karena ketika menjadi ukuran kecil, plastik akan lebih mudah tertelan hewan hingga akhirnya masuk ke manusia lewat rantai makanan.

 

Plastik yang benar dapat terurai adalah yang terbuat dari bahan organik seperti dari singkong atau rumput laut. Namun harga plastik ini cenderung lebih mahal sehingga retailer memilih menggunakan plastik dengan tambahan zat oxium yang justru menciptakan mikroplastik. (M-1)

BERITA TERKAIT