07 January 2020, 12:53 WIB

Polisi Sebut Reynhard Sinaga Sama Sekali tidak Menyesal


Fajar Nugraha | Internasional

The Independent/Facebook
 The Independent/Facebook
Reinhard Sinaga

REYNHARD Sinaga memenuhi pemberitaan sejak kemarin, Senin (6/1), setelah divonis hukuman seumur hidup di Inggris, usai memperkosa sekitar 190 pria. Pihak kepolisian yang menangkap Reynhard menjelaskan sikap pria berusia 36 tahun itu.

Kepolisian Manchester menjelaskan Reynhard berasal dari Indonesia dengan orangtua yang tidak menyetujui orientasi seksualnya.

Pihak kepolisian mengatakan, “Reynhard terobsesi diri sendiri, angkuh, delusional. Itu adalah sifat-sifat yang menjadi ciri pemerkosa berantai."

Reynhard divonis penjara seumur hidup setelah membius dan memperkosa 48 pria di apartemennya di pusat kota Manchester.

"Dia seorang sosiopat," kata seorang detektif kepada Manchester Evening News, Selasa (7/1), setelah menghabiskan berjam-jam menginterogasi Reynhard dalam tahanan.

"Selama setiap wawancara, dia menyatakan tidak ada komentar. Dia tidak menunjukkan penyesalan, tidak ada empati, dan tidak ada simpati,” tegasnya.

Baca juga: Ini Profil WNI Pemerkosa Terganas Sepanjang Sejarah Inggris

Sementara penyelidik senior, Inspektur Zed Ali, mengatakan sosok Reynhard sangat terawat, berbicara dengan lembut, dan berpakaian rapi.

"Jadi, jika Anda pernah mencari stereotipe pemerkosa berantai, ia tidak cocok dengan profil itu. Ini, yang menurut saya, membuatnya berhasil melakukan begitu banyak serangan seksual untuk jangka waktu yang lama,” jelas Ali.

Dilahirkan di Jambi, Indonesia, pada 19 Februari 1983, Reynhard tumbuh dalam keluarga Katolik konservatif yang kaya di Sumatra. Keluarganya cukup kaya untuk mengirim putra mereka ke Sekolah Internasional dan kemudian ke Inggris untuk belajar.

Tahun 2007 adalah tahun pertama lulusan arsitektur Universitas Indonesia itu tiba di Inggris dengan visa pelajar dan pindah ke Manchester sebagai mahasiswa Sosiologi.

Dia kemudian memulai studi untuk gelar PhD di bidang Geografi Manusia di Universitas Leeds.

Pada saat penangkapannya, Reynhard sedang mengerjakan tesisnya, berjudul: 'Seksualitas dan Rransnasionalisme Sehari-hari Pria Gay dan Biseksual Asia Selatan di Manchester'.

Seorang pria yang terus-menerus menghabiskan waktu untuk belajar, dia memberi tahu teman-teman bahwa dia ingin tinggal di Inggris selama mungkin untuk menghindari kembali ke Indonesia.

Dirinya bahkan meneliti sebuah wilayah gay ternama di Manchester untuk melengkapi studinya.

Sepanjang persidangan, dia mengklaim setiap korban yang diperkosanya, setuju untuk melakukan hubungan badan dengan dirinya.

Di pengadilan, Reynhard mengklaim seluruh korban berpura-pura tidur sebagai bagian dari permainan seksnya. Itu sebabnya dia menolak semua tuduhan dari pengadilan yang dianggap menggelikan.

Seluruh korbannya diidentifikasi heteroseksual. Sementara hanya ada satu orang yang homoseksual, itupun pelaku tetap membius dan memperkosanya. (OL-2)

BERITA TERKAIT