07 January 2020, 14:15 WIB

Gelombang Tinggi, Penyeberangan ke Karimunjawa Dihentikan


Akhmad Safuan | Nusantara

ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
 ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Ilustrasi: Gelombang tinggi di perairan Makassar

GELOMBANG tinggi di Laut Utara Jawa Tengah masih mencapai 2 meter, karena itu seluruh penyeberangan ke Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, dihentikan dan pariwisata ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Selasa (7/1), seluruh pelayaran menuju Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, baik dari Pelabuhan Kartini (Jepara), Tanjung Emas (Semarang) maupun Kendal masih terhenti.

Warga Karimunjawa pun terisolasi, selain tak bisa keluar masuk, suplai sembako dan bahan bakar minyak ke wilayah tersebut pun terhenti.

Ribuan warga Karimunjawa pasrah dengan kondisi ini. Untuk kelangsungan hidup, mereka mengandalkan simpanan bahan makanan yang tersisa di rumah dan beberapa kios serta pembagian bahan pokok dari gudang di kecamatan. Keberlangsungan gelombang tinggi ini belum bisa diprediksi.

Warga Karimunjawa yang mengandalkan nafkah sebagai nelayan dan usaha kepariwisataan juga tidak dapat bekerja, karena tidak berani melaut dalam situasi gelombang yang sedang mengamuk seperti sekarang ini. Sebanyak 600 wisatawan juga telah dievakuasi menggunakan Kapal Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).

"Pelayaran dihentikan sampai waktu yang belum ditentukan karena gelombang tinggi terutama di Selat Karimunjawa masih mencapai 2,25 meter dan membahayakan kapal serta penumpangnya," kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Jepara Tri Jotho Sukristiyono.

Baca juga: Gelombang Surut, Akhirnya Pelayaran Jepara - Karimunjawa Dibuka

Akhir pekan lalu, lanjut Tri Jotho, 600 wisatawan terpaksa dievakuasi dari Kepulauan Karimunjawa karena dikhawatirkan akan terjebak lebih lama lagi.

"Hanya kapal besar milik Pelni yang mampu menembus gelombang itu untuk dapat mengevakuasi wisatawan," imbuhnya.

Camat Karimunjawa Saptwagus Karnan Ejeng mengatakan akibat gelombang tinggi, kegiatan warga di wilayahnya lumpuh, karena mata pencaharian warga pada umumnya sebagai nelayan dan mengandalkan kepariwisataan seperti penyewaan kamar, rumah makan, transpotasi dan membuat/menjual kerajinan terhenti.

Pengiriman sembako dan BBM ke Karimunjawa, lanjut Saptwagus Karnan, juga terhenti, meskipun untuk memenuhi kebutuhan hidup itu warga hanya mengandalkan dari Pulau Jawa.

"Di sini tidak ada pertanian, sehingga sembako dan sayuran dikirim dari daerah di Pulau Jawa," ungkapnya melalui sambungan telepon.

Stok bahan makanan masih tersedia hingga sebulan ke depan, tetapi stok BBM di SPBU sudah kosong dan hanya mengandalkan dari pedagang eceran serta tetap berharap gelombang tinggi segera mereda dan kehidupan di kepulauan ini dapat kembali normal.

"BBM terakhir dikirimin pekan ketiga Desember lalu," imbuhnya.

Unit Manager Communication Relation CSR MOR IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta Anna Yudhiastuti mengatakan segera mengirim bahan bakar ke Karimunjawa, setelah gelombang laut tidak lagi tinggi sebanyak 150 kiloliter (Kl) terdiri dari 100 kiloliter solar dan 50 kiloliter pertalite.

"Laporan terakhir masih tersedia stok di SPBU Karimunjawa, namun begitu gelombang mereda maka segera dilakukan pengiriman," tutur Anna.(OL-5)
 

BERITA TERKAIT