07 January 2020, 22:05 WIB

Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam (4)


Zilvia Iskandar dari Amerika Serikat | Humaniora

Jurnalis Harus Gunakan Nalar

DISKUSI favorit jurnalis Metro TV, Zilvia Iskandar, selama mengikuti IVLP di AS adalah dengan Al Tompkins, Senior Faculty untuk broadcasting dan online di The Poynter Institute. Poynter merupakan sekolah jurnalisme ternama di St Petersburg, Florida.

Sebagai pengajar senior di Poynter, Al telah berkeliling dunia mengajari ribuan jurnalis, mahasiswa jurnalistik, dan pendidik mengenai perkembangan jurnalisme dan etika jurnalistik. Perlu diketahui, untuk bisa menjadi jurnalis di AS, harus lulusan sekolah jurnalistik, tidak seperti di Indonesia yang lulusan sarjana apapun bisa menjadi jurnalis.

Al membuka diskusi dengan menceritakan Presiden Donald Trump yang menyebut beberapa media di AS sebagai fake news. Sejak itulah virus fake news atau berita palsu mulai menyebar ke belahan dunia lainnya. Setiap berita yang tidak sesuai dengan keyakinan atau pandangan politik seseorang, dengan mudahnya dilabeli sebagai berita palsu.

"Jika pemerintah atau pihak lain menyebut media Anda sebagai fake news, hal paling penting yang harus dicatat adalah Anda tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun," ujarnya.


Baca juga: Data Kuat Hasilkan Cerita Kuat


Selain itu, kata dia, jurnalis harus sebisa mungkin bersikap transparan dalam memberitakan sesuatu.

"Penting untuk disampaikan ke publik bagaimana Anda mendapatkan informasi tersebut, apa yang Anda ketahui dan apa yang belum Anda ketahui. Lengkapilah dengan dokumen pendukung dan rekaman wawancara utuh untuk menguatkan kebenaran berita yang Anda sampaikan," tutur Al.

Dia juga mengingatkan bahwa kesalahan jurnalistik tidak selalu berarti kebohongan, tetapi bisa saja kesalahan murni yang tidak disengaja. Jika media melakukan kesalahan dalam pemberitaan, sudah seharusnya media melakukan klarifikasi dengan jujur. Untuk mencegah terjadi kesalahan dalam pemberitaan, media harus sangat berhati-hati dan bijaksana dalam proses produksi berita.

Menurutnya, harus diingat bahwa cek fakta bukan instrumen yang sempurna. Al mengatakan bahwa akurat tidak selalu berarti benar. Data yang disajikan boleh jadi akurat sesuai fakta (faktual), tetapi belum tentu benar sesuai konteks (kontekstual).

Kebenaran adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kumpulan fakta. Jurnalis harus tetap menggunakan nalarnya untuk menginterpretasikan fakta sesuai dengan konteks. (Bersambung...) (Ade Alawi/OL-1)

 

BERITA TERKAIT