06 January 2020, 22:55 WIB

Belajar Melawan Hoaks dari Negeri Paman Sam (1)


Zilvia Iskandar dari Amerika Serikat | Humaniora

Zilvia Iskandar
 Zilvia Iskandar
Peserta IVLP bersama Shaydanay Urbani, reporter riset First Draft

Awas Tujuh Jenis Hoaks

JURNALIS Metro TV Zilvia Iskandar mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat pada 25 November-13 Desember 2019.

IVLP merupakan program pertukaran profesional yang diselenggarakan dan didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Setiap tahun sekitar 12 sampai 15 kelompok peserta IVLP dari Indonesia atau sekitar 150 orang berangkat ke AS untuk belajar dan bertukar informasi  serta membangun relasi dengan pihak pemerintah, swasta, akademisi, media, LSM dan berbagai organisasi di tingkat nasional maupun lokal.

Tema IVLP berbeda-beda untuk setiap kelompok. Zilvia Iskandar bersama dengan lima jurnalis lainnya dari Indonesia, yakni Agoez Perdana dari kabarmedan.com, Edho Sinaga dari jubi.co.id, Feri Kristianto dari Bisnis Indonesia, Saffri Sitepu dari Kompas TV Biro Sulawesi, Sophia dari TVRI Papua, dan satu aktivis literasi media Rut Silalahi dari Redaxi, mendapatkan tema 'Fact Based Journalism in the Digital Age. Selama tiga pekan di AS, mereka mengunjungi Washington, DC, New York, Florida, dan Minnesota.

Tujuan utama dari IVLP kali ini adalah mempertemukan peserta dengan para akademisi dan praktisi media untuk saling berbagi formula dalam melawan hoaks atau berita bohong di era digital ini.

Sebelum membahas bagaimana formulanya, perlu diketahui bahwa media dan warga Amerika tidak memakai istilah hoaks (hoax) untuk merujuk pada informasi yang dinilai bohong, palsu, atau rekayasa. Mereka memakai istilah fake news (berita palsu) atau disinformation. Berikut laporannya.

Saat berada di New York, Zilvia Iskandar menemui Shaydanay Urbani, reporter riset First Draft, sebuah organisasi nirlaba global yang membantu para jurnalis, akademisi, dan teknolog untuk menghadapi tantangan penyimpangan informasi di era digital.


Baca juga: Siswa SMK NU Banat Kudus Berjaya di Singapura


Menurut Shaydanay, penyimpangan informasi ada yang tidak disengaja (misinformasi) dan disengaja (disinformasi). Shaydanay menjelaskan untuk memahami ekosistem misinformasi dan disinformasi, First Draft membaginya menjadi tiga elemen. Pertama, jenis konten yang dibuat dan dibagikan.

Istilah hoaks yang sering kita pakai ternyata memiliki banyak varian. First Draft mengelompokkannya ke dalam tujuh tipe misinformasi dan disinformasi.

1. Satire atau Parodi
Satire merupakan konten berunsur parodi atau sarkasme yang dibuat untuk menyindir atau mengkritik pihak tertentu. Satire tidak termasuk konten yang membahayakan, tetapi bisa mengecoh karena sebagian masyarakat menganggap informasi dalam satire sebagai kebenaran.

2. Misleading Content (Konten yang Menyesatkan)
Penyalahgunaan informasi dengan maksud menggiring opini sesuai kehendak pembuat konten. Informasi yang digunakan adalah informasi asli seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, tetapi diedit sesuai dengan opini yang ingin dibangun pembuat konten.

3. Imposter Content (Konten Tiruan)
Informasi yang dibuat dengan menjiplak atau meniru konten asli, menghilangkan sumber aslinya dan mengesankan seolah-olah penjiplak adalah sumber aslinya.

4. Fabricated Content (Konten Palsu)
Informasi yang 100% isinya adalah rekayasa. Sengaja dibuat untuk mengelabui orang lain.

5. False Connection (Koneksi yang Salah)
Judul, gambar, atau caption tidak sesuai dengan isi konten.

6. False Context (Konteks yang Salah)
Peristiwanya benar ada tetapi konteks yang disajikan melenceng dari fakta. Misalnya video peristiwa 5 tahun lalu, tetapi disebut baru terjadi hari ini.

7. Manipulated Content (Konten Manipulasi)
Memanipulasi informasi asli dengan maksud mengelabui orang lain. Konten manipulasi biasanya adalah hasil editan dari konten yang pernah diterbitkan atau ditayangkan media-media kredibel. (Bersambung...) (Ade Alawi/OL-1)

BERITA TERKAIT