07 January 2020, 03:35 WIB

Jho Low Buka Suara soal 1MDB


MI | Internasional

Ist
 Ist
Low Taek Jho

AHLI keuangan Malaysia yang kini jadi buronan dalam kasus megakorupsi dana 1MDB membantah kabar dirinya merupakan otak kasus kejahatan tersebut.

Low Taek Jho biasa dikenal sebagai Jho Low mendapat dakwaan di Malaysia serta Amerika Serikat karena diduga menjadi pemain utama dalam pencurian miliaran dolar AS dari dana kesejahteraan 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Uang jarahan itu lalu digunakan untuk pembelian berbagai barang, mulai karya seni sampai kapal pesiar mewah. Kasus itu juga diduga melibatkan mantan Perdana Menteri Najib Razak dan ikut menyebabkan Razak kalah dalam Pemilu 2018.

Dalam wawancara langka dengan Harian The Straits Times Singapura, Low menyatakan ia hanyalah ‘perantara’ yang dipercaya karena ‘hubungan baik­nya dengan para pembuat keputusan maupun pebisnis asing yang penting’.

“Anggapan bahwa saya otak kasus ini adalah keliru,” kata Low yang menjabat sebagai penasihat tidak resmi untuk 1MDB.

Low, 38, tetap merasa tidak bersalah dalam skandal tersebut. Dalam surat elektroniknya kepada harian tadi, Low menyatakan dana itu juga ditangani oleh berbagai institusi, bankir, dan pengacara.

“Sangat mengherankan kalau perhatian sepenuhnya diarahkan ke saya. Padahal, banyak penasihat keuangan atau institusi lain yang sebetulnya lebih banyak mengurus dan memfasilitasi pencarian dana 1MDB. Pada dasarnya saya ini hanyalah jadi kambing hitam,” ungkapnya.


Masalah dana

Malaysia saat ini telah mendakwa Goldman Sachs dan sejumlah pejabat institusi keuangan itu terkait peran mereka dalam mengatur saham 1MDB.
Pemerintah Malaysia menyatakan sejumlah besar dana 1MDB kini telah disalah­gunakan. Goldman Sachs menyatakan akan melawan tuduhan tersebut.

Sementara itu, Najib kini telah menjalani sidang sejak kalah pemilu. Unsur utama dalam pembelaannya ialah ia tidak mengetahui masalah penyalahgunaan dana dan semuanya dijalankan oleh Low.

Dalam wawancara itu, Low tidak mau menyebutkan lokasi keberadaannya. Ia dilaporkan berada di sejumlah negara, mulai Tiongkok sampai Uni Emirat Arab. (AFP/CNA/Rif/X-11)

 

BERITA TERKAIT