06 January 2020, 08:00 WIB

Banjir bukan Hal yang Baru, tetapi...


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

MI/Putri Anisa Yuliani
 MI/Putri Anisa Yuliani
 Sumiyati, 74, tengah beristirahat seusai membersihkan rumahnya yang terdampak banjir di RT 014/RW 005, Kelurahan Pondok Pinang, Jaksel.

SUMIYATI, 74, tersenyum lega saat melihat para pegawai Kelurahan Pondok Pinang dan Kecamatan Kebayoran Lama tengah bekerja bakti membersihkan wilayah tempat tinggalnya di RT 015/RW 005 Kelurahan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, kemarin. Banjir besar menyisakan onggokan sampah di mana-mana yang memang mesti segera dibersihkan agar tak menimbulkan dampak susulan.

"Alhamdulillah dibersihkan. Kemarin juga sudah disemprot sama damkar (pemadam kebakaran). Soalnya di sini listrik belum nyala, kan jadi belum bisa nyalain keran air untuk bersih-bersih," ujarnya.

Bagi Sumiyati, banjir bukan hal baru. Wilayah tempatnya tinggal memang langganan luapan Kali Pesanggrahan setiap musim hujan. Namun, untuk tahun ini banjir betul-betul membuat nenek dua cucu itu trauma dan susah tidur.

Bagaimana tidak, setelah dua tahun wilayah itu hanya digenangi air setinggi 10 cm, pada malam pergantian tahun ini, air luapan Kali Pesanggrahan begitu cepat naik hingga 2 meter. Seluruh ruang lantai satu kediamannya di Jalan Pondok Pinang pun terendam.

"Ini paling parah sejak 2007. Sebelumnya dua tahun ke belakang hanya semata kaki atau sebetis. Kalau kemarin pas tahun baru, air naik cepat. Saya enggak bisa tidur karena takut tambah naik lagi. Tapi alhamdulillah enggak naik lagi, jadi saya enggak perlu mengungsi," tuturnya.

Karena kerap menjadi langganan banjir, imbuh Sumiyati, warga setempat telah memitigasi dengan membangun rumah dua lantai. Tidak ada alat elektronik di lantai satu. Namun, masih ada warga yang memiliki rumah hanya satu lantai dan akhirnya terpaksa mengungsi saat air naik begitu tinggi.

Sumiyati yang tinggal di Pondok Pinang sejak 1984 menuturkan, saat banjir 2007, ketinggian air sudah menyentuh teras beranda lantai dua rumahnya. Namun, saat itu ia tidak mengungsi karena air belum menyambangi kamar di lantai dua.

"Itu sudah tinggal sejengkal lagi masuk ke lantai dua. Lalu habis itu banjir enggak tinggi-tinggi banget. Hanya sepinggang atau sebetis. Dari 2007 sampai 2018 malah cuma numpang lewat saja airnya. Baru ini yang paling tinggi," ucap Sumiyati.

Menurutnya, di era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, genangan tidak bertahan 24 jam. Kesigapan petugas dalam membersihkan saluran dinilai sangat membantu menekan banjir.

Sayangnya, kata Sumiyati, saat ini sudah jarang petugas yang bersih-bersih sungai atau saluran. Dia pun berharap Pemprov DKI Jakarta meneruskan program-program sebelumnya yang terbukti efektif mengurangi banjir. (Putri Anisa Yuliani/X-8)

BERITA TERKAIT