06 January 2020, 05:30 WIB

Teknologi Informasi untuk Petakan Korban Bencana


(Ind/H-3) | Humaniora

One Day One Service (ODOS) Movement /ugm.ac.id
 One Day One Service (ODOS) Movement /ugm.ac.id
Teknologi Informasi untuk Petakan Korban Bencana

DATA korban menjadi salah satu hal signifikan dalam penanggulangan bencana, termasuk banjir. Seperti yang dilakukan komunitas One Day One Service (ODOS) Movement yang menggunakan fitur dalam Google untuk pendataan korban yang terdampak bencana dalam banjir yang melanda Jabodetabek awal 2020.

"Tujuan awalnya agar masyarakat yang mau membantu bisa langsung ke tujuan. Kalau data berbentuk tabel, biasanya warga agak kesulitan. Berbeda dengan peta. Tinggal klik, ada data tentang jumlah korban, KK yang terdampak, kebutuhan logistik yang diperlukan, dan contact person di daerah itu," jelas Dimas Respati Utomo, salah satu penggagas ODOS MOV ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Menurut Dimas, pada tahap awal, data sebaran pengungsi yang ada dikompilasi secara mandiri. "Setelah kompilasi, kami mencantumkan koordinat latitude dan longitude di kolom yang terpisah," ujar Dimas.

Data yang telah dilengkapi koordinat disimpan dalam bentuk file CSV dan diunggah ke Google Maps. Apabila data tersebut diakses dan dimasukkan Google Maps, akan terbaca koordinat-koordinat dari lokasi pengungsian tersebut. "Kami memanfaatkan fitur Google karena mudah digunakan," terangnya.

ODOS Movement dibentuk pada Januari 2013 berawal dari media sosial, yakni Twitter. Selain memanfaatkan informasi dan teknologi, komunitas ini juga menyalurkan bantuan dari donatur melalui tim asesmen.

Sementara itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) meluncurkan sistem informasi kebencanaan berupa aplikasi mobile GOTRO (Gotong Royong). Aplikasi tersebut diluncurkan pada Mei 2018 oleh Pusat Studi Kebencanaan UGM.

Mengutip laman resmi www. ugm.ac.id, aplikasi itu dapat menginformasikan posko pengungsi korban bencana alam. Informasi yang bisa didapatkan berupa informasi pengungsi, meliputi usia, jenis kelamin, kondisi, dan jumlah pengungsi. Selain itu, juga berisikan informasi, seperti kebutuhan logistik, tenaga kesehatan dan psikolog, serta menu donasi.

"Selama ini informasi pengungsi belum tersampaikan dengan baik, kebanyakan fokus pada korban saja. Karenanya, GOTRO hadir untuk melengkapi aplikasi kebencanaan yang telah ada, terutama prosedur pendistribusian logistik bagi para pengungsi untuk mendukung manajemen tanggap darurat berbasis masyarakat yang lebih efektif dan efisien," ujar ketua tim pengembang GOTRO M Anggri Setiawan.

Anggri mengungkapkan aplikasi ini dapat memberikan informasi terhadap dinamika pengungsi di setiap posko bencana. Terdapat tiga subsistem dalam aplikasi ini, yakni GOTRO Relawan, Admin, dan GOTRO Masyarakat.

Cara kerja aplikasi dimulai dari pemutakhiran laporan kondisi posko bencana dari relawan melalui aplikasi GOTRO Relawan yang sudah terverifikasi oleh sistem admin. Berikutnya, masyarakat yang telah menginstal aplikasi, akan memperoleh notifikasi dan bisa memilih jenis serta jumlah bantuan yang akan dikirim. Bantuan juga akan diverifikasi terlebih dahulu oleh admin.

Dengan aplikasi ini, terang Anggri, informasi kebencanaan bisa lebih cepat diterima masyarakat luas karena pelibatan relawan sebagai responden lokal yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. (Ind/H-3)

BERITA TERKAIT