06 January 2020, 00:00 WIB

Warga AS Demo Menentang Perang dengan Iran


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP
 AFP
Warga AS Demo Menentang Perang dengan Iran

RATUSAN warga di seluruh negara Amerika Serikat (AS) berkumpul pada Sabtu (4/1) untuk menggelar aksi protes terhadap serangan udara yang menewaskan komandan militer Iran, Qassem Soleimani. Serangan itu memicu kekhawatiran terjadinya perang baru di Timur Tengah.

Aksi protes ini diselenggarakan oleh koalisi anti perang yang berbasis di AS yakni CODEPINK dan Act Now to Stop War and End Racism, bersama dengan sejumlah kelompok lainnya.

Sejumlah pengunjuk rasa berkumpul di Tampa, Philadelphia, San Francisco, hingga New York, sambil membawa spanduk dan meneriakkan slogan-slogan antiperang. Penyelenggara protes mengatakan, pemerintahan Trump telah memulai perang dengan membunuh Soleimani.

“Kami tidak akan membiarkan negara kami di bawa ke dalam perang yang sembrono lainnya,” ujar seorang orator demonstrasi yang berkumpul dengan sekitar 200 massa lainnya di luar Gedung Putih AS, Sabtu (4/1).

Salah satu demonstran, Sam Crook, mengaku dirinya prihatin atas tindakan Trump menabuh genderang perang atas Iran. Menurutnya, AS berada dalam cengkeraman pemimpin yang secara mental tidak stabil (Trump).

Warga Iran-Amerika, Shirin, mengaku khawatir tentang kemungkinan terjadinya perang dengan Iran, dengan Iran yang telah bersumpah untuk membalas dendam atas kematian Soleimani. “Kami sudah menghabiskan triliunan dolar untuk memerangi perang yang tidak adil di Irak dan perang terpanjang hari ini di Afghanistan. Dan apa yang hendak kita tunjukkan untuk itu?” tutur Shirin.


Ketegangan AS-Iran

Pembunuhan Qassem Soleimani menandakan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. Trump menginstruksikan pembunuhan Qassem Soleimani dengan dalih untuk menghentikan perang.

Ribuan pasukan AS yang dikerahkan ke Timur Tengah sudah mulai melakukan perjalanan dari Fort Bargg, North Carolina pada Sabtu (4/1). Mereka akan ditempatkan di Kuwait menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah AS membunuh jenderal Iran.

Pada Ahad (5/1) juru bicara Divisi Penerjun 82 Letnan Kolonel Mike Burns mengatakan sebanyak 3.500 pasukan akan dikirimkan dalam beberapa hari ke depan. Pasukan itu anggota brigade divisi pengerahan cepat dikenal Immediate Response Force atau Pasukan Cepat Tanggap.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khameini akan balas dendam seberat-beratnya untuk Jenderal Qassem Soleimani, dan menyebut balas dendam ini sebagai perang Jihad bagi Iran.

Dengan sikap dan tindakan yang kerap memicu kontroversi, Trump justru tak mundur dengan gretakan dan ancaman dari Iran. Di Twitter-nya, ia seakan menantang dan siap merespon serangan dari militer Iran dan milisi pendukungnya.

“Jika mereka (Iran) menyerang lagi, yang saya nasihati secara tegas mereka jangan melakukannya, kami akan menghantam lebih keras lagi dari yang pernah dilakukan sebelumnya’ tulis Trump dalam Twitter-nya.

Tak hanya itu, dalam cuitan lainnya, Trump menunjukkan peralatan militer AS. Dia mengatakan dirinya tak akan segan-segan untuk mengerahkan semua kekuatan militernya jika basis atau personel AS diserang militer Iran.(AFP/I-1)

BERITA TERKAIT