05 January 2020, 14:15 WIB

Masyarakat Diminta Siapkan Tas Siaga Bencana untuk Antisipasi


Indriyani Astuti | Humaniora

ANTARA/RAHMAD
 ANTARA/RAHMAD
Awan hitam Cumulonimbus bergelayut di langit Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Selasa (22/10).

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di seluruh Indonesia untuk aktif menginformasikan peringatan dini cuaca ekstrem kepada masyarakat. Melalui peringatan dini tersebut, warga dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Masyarakat juga diminta menyiapkan satu tas khusus siaga bencana.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo, mengimbau masyarakat agar waspada dan siap-siap apabila terjadi bencana banjir, longsor dan puting beliung. Menurut Agus, dokumen-dokumen penting sebaiknya diamankan dan masyarakat perlu menyiapkan tas siaga bencana yang dapat dibawa secara cepat. Isi tas siaga bencana dapat berupa makanan, minuman, pakaian, senter, peluit, radio, obat-obatan, dan lainnya sesuai keperluan.

Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kondisi dinamika atmosfer terkini pada Minggu (5/1) menunjukkan adanya potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia untuk sepekan mendatang.

Baca juga: PMI Jakarta Pusat Semprot Disinfektan di Petamburan

"Semua pihak diimbau untuk waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi cuaca ekstrem sepekan ke depan," ujar Agus di Jakarta, Minggu (5/1).

Selain itu, guna mencegah genangan air pascahujan, masyarakat diimbau gotong royong untuk membersihkan saluran air di rumah dan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, memangkas pohon yang terlalu rimbun dan tanam pohon.

Menurut laporan BMKG, berkurangnya pola tekanan rendah di Belahan Bumi Utara (BBU) dan meningkatnya pola Tekanan Rendah di wilayah Belahan Bumi Selatan (BBS) mengindikasikan terjadinya peningkatan aktivitas Monsun Asia yang dapat menyebabkan penambahan massa udara basah di wilayah Indonesia.

Di samping itu, meningkatnya pola tekanan rendah di BBS, di sekitar Australia, dapat membentuk pola konvergensi atau pertemuan massa udara dan belokan angin menjadi signifikan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia terutama di bagian selatan ekuator.

Baca juga: BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Berlangsung Hingga 12 Januari

Sementara itu, berdasarkan model prediksi, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase basah diprediksikan mulai aktif di sekitar wilayah Indonesia selama periode sepekan ke depan. Menurut BMKG, kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan cukup signifikan di wilayah Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan potensi cuaca ekstrem dan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di beberapa wilayah nusantara. Kondisi cuaca juga memicu terjadinya potensi ketinggian gelombang laut di wilayah Indonesia hingga mencapai lebih dari 2,5 meter di beberapa wilayah perairan sepekan mendatang. (OL-6)

BERITA TERKAIT