05 January 2020, 12:35 WIB

Gelombang Tinggi, Pelabuhan di Sulsel Berlakukan Buka Tutup


Lina Herlina | Nusantara

ANTARA FOTO/Rahmad
 ANTARA FOTO/Rahmad
Ilustrasi Gelombang Tinggi

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geologi (BMKG) Wilayah IV Makassar, mengeluarkan peingatan dini terkait ketinggian gelombang air laut di sekitar perairan yang mengelilingi Sulawesi Selatan.

BMKG menyebutkan ketinggian air laut bisa mencapai 4 meter. Ada dua tipe gelombang yang terjadi, yaitu moderate sea, dengan ketinggian gelombang antara 1,25 hingga 2,5 meter

"Moderate sea bisa terjadi di Perairan Spermode Pangkep, Perairan Spermonde Makassar, dan Teluk Bone Bagian selatan," kata Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yudha dalam keterangan resmi, Minggu (5/1).

Tipe ketinggian gelombang air laut lainnya yaitu rough sea dengan tinggi gelombang antara 2,5 hingga 4 meter. Itu terjadi di Selat Makassar bagian selatan, Perairan Parepare, Perairan Spermonde Pangkep bagian barat, Perairan Spermonde Makassar bagian barat, Perairan Kepulauan Selayar, Perairan Sabalana, Perairan Pulau Bonerate-Kalaotoa, dan Laut Flores.

Baca juga: Gelombang di Samudra Hindia Tinggi, Wisatawan Diingatkan

Akibat cuaca yang mulai ekstrem, khususnya di perairan, jalur pelayaran, untuk jenis penyeberangan seperti di Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, melakukan sistem buka tutup penyeberangan.

Komandan Pos I Pelabuhan Bira, Abidin, mengungkapkan, diberlakukan sistem buka tutup karena cuaca buruk.

"Hujan deras, angin kencang dan ketinggian ombak membuat kita melakukannya, meminimalisir terjadinya musibah. Jumat (3/1) kemarin tidak ada pelayaran sama sekali. Kemarin Sabtu (4/1) hanya satu pelayaran karena cuaca buruk. Hari ini semoga normal, sambil lihat cuaca," ujar Abidin.

Terpisah, Syahbandar Pelabuhan Bone, M Asgar, mengaku belum melakukan penundaan pelayaran sama sekali dari Pelabuhan Bajoe.

"Tapi pelayaran ke Bajoe dari Arah Kolaka sudah ada yang ditunda, karena berhadapan langsung dengan ombak," tuturnya.

Sementara itu, pihak Pemprov Sulsel melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah sudah mengeluarkan imbauan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang terjadi.

Pemprov Sulsel dan BPBD sudah bersiaga sejak Oktober 2019, tapi ternyata cuaca ekstrem baru terjadi awal tahun ini. Kita sudah melakukan antisipasi bencana yang rawan terjadi di Sulsel, baik itu gelombang tinggi, puting beliung, banjir dan tanah longsor.(OL-5)

BERITA TERKAIT