05 January 2020, 01:00 WIB

Banjir, Yuk Peduli Lingkungan


Suryani Wandari Putri | Weekend

MI/Duta
 MI/Duta
Ilustrasi

PERGANTIAN 2020, alih-alih berpesta, Indonesia malah berduka. Sejumlah kawasan di Jabodetabek mengalami banjir pascahujan deras. Banyak rumah terendam banjir hingga tenggelam sehingga baju, peralatan sekolah, dan seluruh isi rumah mereka terkena air.

“Sedih dan prihatin atas musibah banjir yang terjadi. Apalagi terjadi pada saat pergantian tahun, di mana hujan turun dengan derasnya. Biasanya kita merayakan tahun baru dengan meriah dan rasa nyaman. Tetapi karena banjir, sebagian dari kita yang terkena banjir jadi menderita dan sedih,” kata Syazwina Mazaya Rahman, Reporter Cilik (Repcil) Media Anak Media Indonesia.

Meskipun tidak dirasakannya langsung, bencana banjir tetap saja membuat siswi kelas 5, Highscope TB Simatupang, ini, sedih dan prihatin. Pasalnya, saudaranya harus mengungsi dari rumahnya yang terkena banjir. “Perasaannya sedih dan kaget, sekarang ia repot untuk membersihkan rumahnya,” lanjut repcil yang akrab dipanggil Sasya ini.

Menurut pengamatannya, banjir kali ini terjadi karena curah hujan yang tinggi. Di samping tak ada kesadaran dari masyarakat maupun pemerintah untuk peduli lingkungan. “Banyak pohon yang ditebang dan daerah resapan air dan tampungan air yang jauh berkurang akibat dijadikan permukiman penduduk ataupun gedung-gedung,” ujarnya.

“Belum lagi, katanya banyak tanah ditutup semen sehingga air tidak bisa meresap ke dalam tanah sehingga sungai yang ada tidak mampu mengalirkan air secara cepat ke laut apalagi masyarakat sering membuang sampah sembarangan ke sungai sehingga aliran air jadi terhambat.”

Senada dengan Sasya, repcil lainnya, Embun Canary Wijanarko siswa kelas 5 SDIT Cordova 2, sempat kesal dengan banjir akibat perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan. “Masyarakat enggak peduli lingkungan, lalu mereka tidak tahu dampak membuang sampah sembarang­an,” kata Embun yang diwawancarai via telepon, Kamis (2/1). Embun mengaku tak jadi bepergian keluar rumah karena takut mobilnya harus melewati jalanan banjir yang kemudian bisa berakibat mogok.

Keprihatinan dua repcil ini ternyata berbanding terbalik dengan anak-anak di Kemang Utara dan beberapa tempat lainnya yang justru menjadikan banjir sebagai arena bermain. Mereka sangat tidak setuju karena terdapat bahaya yang mengancam, baik segi keselamatan maupun kesehatannya. Hal ini ditegaskan dr Bernie Endyarni Mediase, dokter spesialis anak, yang mengatakan bermain di aliran banjir sangatlah banyak memiliki risiko kecelakaan.

“Yang paling utama terbawa hanyut, tenggelam yang berakhir kematian. Bisa risiko kecelakaan lain, seperti patah tulang karena benturan, memar,” katanya. Belum lagi kita tidak mengetahui apa yang ada di dalam atau di dasar air, dokter Bernie mengatakan bisa saja ular mengancamnya.

Kedua repcil ini kemudian berharap agar bencana banjir cepat selesai, begitupun dengan penyakit yang mungkin saja menyerang usia banjir. Lebih jauh, mereka pun berharap pemerintah segera memberikan bantuan untuk masyarakat, baik berupa fasilitas umum maupun pasokan makanan dan mencari solusi masalah banjir. (M-3)

BERITA TERKAIT