05 January 2020, 00:40 WIB

Hiperbol Ungkapan


Ahmad Tarmizi, Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend

Dok. PRIBADI
 Dok. PRIBADI
Ahmad Tarmizi, Staf Bahasa Media Indonesia

MASYARAKAT Indonesia merupakan masyarakat majemuk. Kemajemukan masyarakat Indonesia ditandai dengan beragamnya bahasa dan budaya. Seiring berkembangnya zaman, kecanggihan teknologi membuat bahasa dan budaya mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Menurut laporan hasil survei yang dilakukan ­Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan ­Polling Indonesia, pengguna internet di Indonesia pada 2018 sebanyak 171,71 juta jiwa. Angka ini setara dengan 64,8% dari total seluruh penduduk di Indonesia, yakni 264,16 juta jiwa.

Dari total di atas tidak hanya didominasi oleh kaum muda, tetapi juga para orangtua. Baik kaum milenial maupun orang tua pasti memiliki satu akun media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan Whatsapp. Tujuan menggunakannya pun bermacam-macam sehingga membuat mereka seakan-akan berlomba-lomba untuk memilikinya.

Kemunculan media sosial awalnya digunakan sebagai alat komunikasi jarak jauh. Namun, di era digital sekarang ini, media sosial justru dijadikan tempat untuk mengeks­presikan diri. Bahkan, tak jarang para pengguna media sosial sering mencari sensasi di dunia maya. Karena itu, hal inilah yang melatarbelakangi berbagai fenomena bahasa yang berlangsung di media sosial.

Ketika kita berselancar di media sosial, kita sering memperoleh bahasa-bahasa yang baru, baik dalam bentuk kata, imbuhan, singkatan, maupun campur kode. Pemerolehan bahasa seperti ini biasanya dipicu oleh berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan masyarakat, misalnya, kita pernah melihat bahkan mendengar tentang ‘hari patah hati nasional’. Ungkapan tersebut bermunculan di media sosial karena terdapat berita bahwa penyanyi Raisa Andriana dilamar oleh aktor Hamish Daud. Bagaimana tidak? Penyanyi kelahiran Jakarta, 6 Juni 1990, itu, memiliki wajah yang begitu cantik sehingga netizen, khususnya para lelaki, seakan-akan tak rela jika Raisa dilamar orang lain.

Ungkapan di atas tidak hanya diviralkan oleh kaum adam, kaum hawa pun turut memviralkan. Selain ‘hari patah hati nasional’, juga ada ‘hari patah hati dunia akhirat’. Hal ini disebabkan oleh pernikahan hafiz ternama Muzzamil Hasballah dengan Sonia Ristanti Idris. Lelaki muda lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu memiliki suara merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Karena itu, tak mengherankan jika ia menjadi idaman kaum hawa dari berbagai kalangan.

Kedua ungkapan di atas dalam kacamata bahasa disebut hiperbol. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hiperbol ialah ucapan (ungkapan, pernyataan) kiasan yang dibesar-besarkan (berlebih-lebihan), dimaksudkan untuk memperoleh efek tertentu. Sementara itu, dalam ungkapan itu, netizen seolah-olah menjadikan sebuah peristiwa sebagai hari resmi nasional. Padahal, tidak lain tidak bukan hanya sebagai lelucon semata.

Selain kedua ungkapan di atas, ternyata sejak dulu kita sering mendengar ungkapan yang serupa, yaitu harpitnas (hari kejepit nasional). Berbeda dengan konteks sebelumnya, ungkapan ini muncul karena dalam satu minggu terdapat tanggal merah di pertengahan sehingga disebut oleh kalangan masyarakat sebagai hari kejepit nasional.

Mengenai pembahasan di atas, menurut saya, sah-sah saja jika digunakan di ranah publik untuk sekadar guyon­an. Akan tetapi, sebagai kaum yang melekat dengan media sosial, tetap harus berhati-hati dalam bercanda. Hal ini demi menjaga perasaan orang lain yang ada di sekitar kita.

Sensasi hiperbol itu tentu hanya kelatahan berbahasa di media sosial. Tanggapan untuk memviralkan menjadikan bahasa itu meluas. Menyebar.

BERITA TERKAIT