05 January 2020, 00:20 WIB

Kolaborasi ke Internasional


Thalatie K Yani | Weekend

MUSIK etnik Bali terdengar dari sudut Pavilion Indonesia di konferensi perubahan iklim UNFCCC-COP25 di Feria de Madrid, Madrid, Spanyol, awal Desember. Tampak Gede Putra Witsen yang berkostum pakaian Bali tengah memetik gitar Rick Hanes. Permainan gitar solonya menarik perhatian para pengunjung UNFCCC-COP25 yang melintas.

Tidak hanya pandai memetik gitar, pria berusia 19 tahun itu menambah decak kagum dengan penampilan tari Baris yang dikolaborasi dengan tari Monyet. Tarian itu menceritakan seorang kesatria yang pergi masuk hutan. Saat di hutan, sang kesatria bertemu dengan Hanoman, percakapan itu yang digambarkan Gede.

Penampilan Gede di ajang internasional itu bukan kali pertama. Ia pernah tampil juga di COP 24 di Polandia dan berbagai ajang internasional lainnya mewakili Indonesia. Dalam setiap penampilannya, Gede yang lahir di Denpasar itu, selalu mengedepankan unsur Bali, tapi dengan sentuhan seni Indonesia yang lain.

Apa sih sebenarnya alasan Gede mengo­laborasikan unsur seni Bali dengan seni yang lain? Berikut bincang Gede dengan Muda di Madrid, awal Desember lalu.

Bisa cerita awal kamu berkecimpung di dunia tari?

Saya dari keluarga seni, jadi berkenalan dengan dunia tari sejak kecil. Dari kecil saya sudah bersentuhan dengan tari dan olahraga, apalagi bapak (Putra Witsen) dan ibu (Ayu Witsen) saya pencetus seni bela diri dengan lumpur dari Bali, mepatigan.

Tarian apa yang pertama kali dipelajari?

Awalnya itu tari Baris. Tari Baris itu tarian kesatria, simbol kesatria menuju perang. Jadi setiap gerakan di tarian ini merupakan gerakan perang, salah satunya ulap-ulap, yakni tangan ke atas untuk melihat posisi lawan berada di mana.

Saat tampil di pembukaan, kamu membawakan tari Baris yang dikolaborasi dengan tari Monyet. Apa yang menginspirasi kamu melakukan kolaborasi?

Dari pengalaman saya dan keluarga, kalau mau menyentuh audiensi internasional harus ada kolaborasi, jangan selalu monoton. Kalau terlalu monoton, penonton akan bosan.

Kolaborasi yang saya lakukan pun tergantung event. Seperti COP ini, saya masukan unsur alam dengan monyet. Mengapa monyet? Karena di Bali, banyak monyet. Kalau kita ke alam, pasti ketemu monyet dan monyet mirip kita.

Ini kedua kalinya kamu tampil di COP. Menurut kamu apa efek perubahan iklim yang kamu rasakan?

Kebetulan saya sekolah di Green School, Bali, yang sangat alami. Saya banyak belajar tentang apa yang terjadi di dunia karena climate change. Apakah kebakaran hutan, kenaikan permukaan air laut, itu semua sangat berdampak pada banyak orang. Perkembangan teknologi saat ini semakin besar, tapi kita lupa alam jadi rusak.

Melalui tarian Bali yang dikolaborasikan dengan musik, saya mengirimkan pesan bahwa kita harus melindungi alam. Apalagi unsur alam selalu ditekankan dalam hidup saya. Seperti di rumah kita tidak pernah menebang pohon, kalau pun harus bangun rumah, ya harus menyesuaikan dengan pohon. Jangan heran ada pohon di tengah bangun­an.

Berbicara kolaborasi unsur kesenian, apa saja yang sudah kamu lakukan?

Saat ini saya senang mengo­laborasikan unsur seni di luar Bali. Seperti saya punya sapeh, gitar dari Kalimantan yang saya gabungkan dengan musik Bali. Kalau dari Jawa, saya coba menggunakan gendang sunda, karinding, dan menggabungkannya dengan pencak silat Sunda. Selain itu saya menggunakan gendang Bali untuk tarian Papua.

Saya juga suka bawa gamelan bambu yang berukuran kecil. Biasa­nya saya main gitar, lalu saya loop, di atasnya saya masukkan permainan gamelan bambu itu. Kenapa saya pilih gamelan bambu? Karena lebih eco­friendly dan aksesnya di Bali sangat banyak, lebih ringkas saja dari gamelan perunggu.

Bisa cerita bagaimana awalnya perform di ajang internasional?

Saya cukup beruntung bisa dapat full beasiswa di Green School. Di sana saya buat koneksi dan aktif di kegiatan sekolah, apakah itu menari atau main musik. Dari sana saya kerap diminta main di forum-forum kecil di Bali dan berlanjut ke forum besar.

Pertama sekali ke luar negeri waktu ke Denmark. Saat itu event KBRI untuk scholarship exchange, saya waktu itu membawakan musik gitar etnik gamelan Bali. Lalu saya pernah ke Jerman untuk sharing culture.

Dari sejumlah penampilan kamu, apa saja yang sudah kamu pelajari?

Banyak, saya belajar membuat koneksi. Belajar setiap performa belum tentu lancar. Pernah pentas, saat sound check lancar, tapi pas mau perform, musiknya hang. Tetap saya tampil dengan spontan saja.

Apalagi saat pertama tampil, intronya bagus, tapi penonton tidak tahu konteks­nya apa hingga dicuekin. It’s a rookie mistake. Pasti sempat feeling down. Tapi it’s how you back up again and fix your mistake (bagaimana kamu bangkit lagi dan memperbaiki kesalahan kamu).

Apa pesan kamu bagi anak muda Indonesia yang ingin bisa mengangkat budaya Indonesia di internasional?

Pemuda Indonesia yang merantau di luar negeri, cara berpikir kita boleh international, tapi hati pelajar Indonesia harus selalu berbudaya Indonesia. (M-1)

BERITA TERKAIT