04 January 2020, 16:10 WIB

Kenapa AS Akhirnya Membunuh Jenderal Top Iran Qassem Soleimani?


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Komandan Pasukan Quds Jenderal Qassem Soleimani.

PEMBUNUHAN Komandan Pasukan Quds Jenderal Qassem Soleimani merupakan eskalasi dramatis dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pembunuhan yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump konsekuensinya bisa sangat besar.

Trump mengatakan AS membunuh komandan militer Iran itu untuk menghentikan perang dan bukan untuk memulai perang. Jenderal Soleimani, sambung dia, dibenci dan ditakuti di negaranya sendiri dan seharusnya sudah dibunuh bertahun-tahun yang lalu.

"Kekuasaan teror Soleimani telah berakhir," ujar Trump setelah serangan pesawat nirawak AS di Nandara Baghdad, Irak, Jumat (3/1), yang merenggut nyawa komandan Pengawal Revolusi Iran tersebut.

Baca juga: Trump Klaim AS Bunuh Soleimani Demi Hentikan Perang

Trump berkilah rezim yang ia pimpin tidak sedang mencari perang atau hendak melakukan perubahan kepemimpinan di Iran. Sebaliknya, Trump mengaku ingin mencegah Jenderal Soleimani yang dia sebut sebagai 'monster sakit' dan 'teroris nomor satu di dunia'.

Berbicara pada konferensi pers di resor Mar-a-Lago di Florida, Trump mengatakan tentang serangan tersebut. "Militer Amerika Serikat melakukan serangan presisi tanpa cacat yang menewaskan teroris nomor satu di mana saja di dunia Qassem Soleimani."

Dia mengatakan, "Soleimani merencanakan serangan yang segera dan seram terhadap para diplomat Amerika dan personel militer, tetapi kami menangkapnya dalam tindakan itu dan menghentikannya."

Kenapa sekarang?
Pembunuhan Soleimani merupakan eskalasi dramatis dalam konflik tingkat rendah antara AS dan Iran dan yang konsekuensinya bisa sangat besar. Soleimani mempelopori operasi Timur Tengah Iran sebagai kepala Pasukan Quds. Iran berjanji akan melakukan balas dendam berat pada mereka yang menyebabkan Soleimani tewas.

Koresponden pertahanan dan diplomatik BBC, Jonathan Marcus, dalam tulisannya mengatakan pembalasan diprediksi terjadi. Rantai aksi dan pembalasan dapat terjadi membawa kedua negara lebih dekat ke konfrontasi langsung. Masa depan Washington di Irak bisa dipertanyakan. 

Philip Gordon, yang merupakan koordinator Gedung Putih untuk Timur Tengah dan Teluk Persia dalam pemerintahan Obama, menggambarkan pembunuhan itu sebagai 'deklarasi perang' oleh AS terhadap Iran.

Pasukan Quds adalah cabang pasukan keamanan Iran yang bertanggung jawab untuk operasi di luar negeri. Selama bertahun-tahun, apakah itu di Libanon, Irak, Suriah atau di tempat lain, Soleimani telah menjadi penghasut serta pembangkit utama dalam memperluas dan memperpanjang pengaruh Iran melalui perencanaan serangan atau memperkuat sekutu lokal Teheran.

Bagi Washington, dia adalah seorang pria dengan darah rakyat AS di tangannya. Tapi dia populer di Iran. Dan secara praktis, ia memimpin perlawanan Teheran terhadap kampanye tekanan dan sanksi yang dijatuhkan 'Negeri Paman Sam'.

Pada 2013, mantan perwira CIA John Maguire mengatakan kepada The New Yorker bahwa Soleimani adalah satu-satunya operasi paling kuat di Timur Tengah.

Apa yang paling mengejutkan bukanlah Soleimani memang sudah berada dalam radar Presiden Trump, melainkan kenapa AS harus menyerang atau menghabisinya sekarang.

Serangkaian serangan roket tingkat rendah terhadap pangkalan AS di Irak disalahkan pada Teheran. Satu kontraktor sipil AS terbunuh. Tapi operasi Iran sebelumnya--terhadap tanker di Teluk; penembakan kendaraan udara nirawak AS; bahkan serangan besar terhadap sebuah fasilitas minyak Saudi--semuanya berlangsung tanpa respons langsung dari AS.

Dalam menjelaskan keputusan untuk membunuh Soleimani, Pentagon tidak hanya berfokus pada tindakannya di masa lalu, tetapi juga berkeras serangan itu dimaksudkan sebagai pencegah. Sang Jendral, kata pernyataan Pentagon, "Secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang para diplomat dan anggota layanan AS di Irak dan di seluruh kawasan."

Apa yang terjadi selanjutnya adalah pertanyaan besar. Presiden Trump setidaknya berharap dalam satu tindakan dramatis dia telah menakuti Iran dan membuktikan kepada sekutunya yang semakin tidak nyaman di kawasan seperti Israel dan Arab Saudi bahwa pencegahan AS masih memiliki taring.

Siapa Soleimani?
Pria berusia 62 tahun itu secara luas dipandang sebagai sosok paling kuat kedua di Iran, di belakang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Bahkan dia digadang-gadang akan menjadi pemimpin Iran berikutnya.

Soleimani bisa dibilang adalah tokoh paling kuat di republik Islam itu. Sebagai kepala militer Pasukan Quds di luar negeri, Soleimani adalah dalang di balik kegiatan 'Negeri Para Mullah' di Timur Tengah dan ibarat menteri luar negeri Iran ketika menyangkut masalah perang dan perdamaian.

Dia secara luas dianggap sebagai arsitek perang Presiden Suriah Bashar al-Assad melawan pemberontak di Suriah, kebangkitan paramiliter pro-Iran di Irak, perang melawan kelompok Islamic State (IS), dan banyak pertempuran lainnya di luar negeri.

Karismatik dan sering sulit dipahami, komandan berambut perak dihormati oleh beberapa orang, dibenci oleh yang lain, dan sumber mitos dan meme media sosial.

Pasukan Quds merupakan unit elite Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC), yang memberikan laporan langsung ke Ayatollah.

Di bawah kepemimpinannya selama 21 tahun di Pasukan Quds, Iran mendukung Hizbullah dan kelompok-kelompok militan pro-Iran lainnya di Libanon. Kiprahnya membuat Iran memperluas kehadiran militer di Irak dan Suriah. Qassem Soleimani juga mengatur serangan Suriah terhadap kelompok-kelompok pemberontak dalam perang saudara yang panjang di negara itu.

Ketegangan
Pembunuhan itu menandakan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. Para pejabat AS mengatakan 3.000 tentara tambahan akan dikirim ke Timur Tengah sebagai tindakan pencegahan.

Sementara itu, televisi pemerintah Irak mengatakan telah terjadi serangan udara lagi di negara itu, 24 jam setelah pembunuhan Soleimani. Namun, belum ada komentar tentang ini dari Washington.

Sebuah sumber militer Irak mengatakan enam orang tewas dalam serangan baru itu yang menghantam konvoi milisi Irak pada dini hari Sabtu (waktu setempat). (BBC/The Telegraph/Hym/A-5)

BERITA TERKAIT