04 January 2020, 15:30 WIB

Ketersediaan Air Bersih Nasional Memprihatinkan


Tosiani | Humaniora

MI/Ramdani
 MI/Ramdani
Fasilitas pengolahan air bersih

KONDISI ketersediaan air bersih di berbagai daerah di Indonesia hingga saat ini masih memprihatinkan. Pemerintah berkomitmen melengkapi pembangunan sarana air bersih hingga mencapai 100% secara nasional pada 2030 mendatang.

Dirjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Danis Hidayat Sumadilaga, menyebutkan, saat ini, rata-rata ketersediaan air bersih secara nasional di 514 kabupaten/kota di kisaran 72-90%. Bahkan, di beberapa daerah, ada yang ketersediaan sarana air bersihnya kurang dari 70% di daerah perkotaan.

"Secara nasional, kita berusaha untuk 2030 akan selesai 100%. Jadi, masih ada waktu 10 tahun lagi,"ujar Danis dalam kunjungan kerjanya ke Temanggung, Sabtu (4/1).

Baca juga: Istana Minta Setop Saling Menyalahkan Soal Banjir

Di Temanggung, Danis meninjau pelaksanaan program pengadaan air bersih dan pengembangan sejumlah kawasan wisata religi.

Ia mengungkapkan upaya pengadaan air bersih di berbagai daerah terkendala berbagai faktor. Di antaranya lokasi sumber air yang jauh dari pemukiman.

Karenanya masyarakat harus berjalan cukup jauh untuk bisa mengakses sumber air tersebut.

Jika kondisinya demikan, menurut Danis, pihaknya akan membuat program penyediaan air bersih berbasis masyarakat dengan mendekatkan sumber air tersebut ke masyarakat melalui sambungan-sambungan pipa.

"Ini biasanya dalam bentuk sambungan pipa, reservoar untuk menyimpan cadangan air. Ini karena mata airnya ada tapi lokasinya jauh dan fasilitas pendukungnya kurang," kata Danis.

Di luar Jawa, lanjut Danis, kebanyakan sarana air bersih terkendala kondisi sumber air yang keruh, sehingga harus melalui proses pengolahan air terlebih dahulu agar air menjadi lebih bening. Upaya ini membutuhkan biaya yang relatif besar.

Ia mencontohkan daerah Pasuruan di Provinsi Jawa Timur kondisi airnya bagus, sehingga tinggal menambahkan desinfektan saja sudah bisa langsung dikonsumsi untuk air minum. Akan tetapi, di daerah Sumatra dan Kalimantan, warna airnya keruh dan coklat sehingga perlu biaya besar untuk mengolahnya menjadi air bersih, lalu mendistribusikan air tersebut melalui pipa agar dapat dimanfaatkan warga.

"Kalau di daerah Indonesia Timur, dalam setahun, rata-rata hanya ada hujan selama tiga bulan. Karena itu, di sana program besar Kementerian PUPR adalah membuat waduk atau embung untuk menampung air. Di Kalimantan juga demikian," ujarnya.

Adapun di Temanggung, Jawa Tengah, secara umum, menurut Danis, ketersediaan air bersih untuk sekitar 860 ribu penduduk Temanggung sudah cukup bagus.

Untuk daerah perkotaan dengan jumlah penduduk sekitar 20% dari total jumlah penduduk itu, sarana air bersih sudah tercukupi 100%.

Sedangkan untuk 80% penduduk yang tinggal di perdesaan, sarana air bersih baru tercukupi sekitar 20% saja. Jumlah itu sudah jauh lebih tinggi rata-rata nasional.

"Untuk Temanggung, dengan kondisi demikian, target 100% sarana air bersih saya kira akan lebih cepat tercapai karena sudah lebih tinggi dari rata-rata nasional. Tadi diusulkan untuk membangun pipanisasi dari sumber air Sigandul dengan debit 100 liter per detik guna mengairi ribuan kepala keluarga di 5-6 desa sekitarnya," ujar Danis. (OL-2)

BERITA TERKAIT