04 January 2020, 11:10 WIB

Siklus Tahunan Banjir Terjadi Lebih Cepat


Atalya Puspa | Humaniora

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut siklus hujan dengan intensitas ekstrem tahunan semakin memendek. Hal tersebut dipengaruhi adanya global warming yang membuat percepatan perubahan iklim.

“Tampaknya siklus itu semakin memendek, yang biasanya 10 tahunan atau 20 tahunan menjadi datang hanya dalam waktu lima tahun atau kurang,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers di Gedung BPPT, MH Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin.

Ia meminta masyarakat harus ber-adaptasi dengan pergantian siklus tersebut. Masyarakat dapat memantau informasi terbaru dari BMKG.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan kondisi super esktrem yang melanda Ibu Kota Jakarta belakangan ini tidak terlepas dari tingkah laku manusia yang ingin mengubah fungsi dari alam. Salah satunya meng-ubah hutan konservasi menjadi tempat pertambangan.

“Penyebab utama akibat banjir dan longsor itu adalah perubahan vegetasi, alih fungsi lahan,” tuturnya.

Doni menenkankan agar para pemangku kepentingan agar lebih wawas terhadap lingkungan. Pelaku usah harus memperhatikan keseimbangan alam. “Jangan sampai kita dapat keuntungan ekonomi besar, tapi kerugian jiwanya juga besar,” pungkasnya.

 

Percaya ramalan

BMKG juga menekankan ramalan cuaca yang rutin diinformasikan masyarakat berdasarkan data yang akurat. Masyarakat diminta memercayai ramalan tersebut.

Dwikorita mengatakan seminggu sebelum terjadinya banjir besar yang melanda Ibu Kota Jakarta, pihaknya telah melakukan peringatan dini melalui ramalan cuaca. Namun, hal itu terkesan disepelekan beberapa masyarakat.

“Kami mencoba mendengar ke publik. (Tapi) publik masih mengira peringatan dini adalah perkiraaan, bukan prakiraan. Ini yang dipahami, padahal peringatan dini dari BMKG adalah prakiraan,” ujar-nya.

Ia menambahkan, data yang dihimpun dalam ramalan cuaca diperoleh melalui pantauan satelit dan dikombinasikan pantauan radar. Pasalnya, hasil satelit tidak cukup detail membaca kondisi wilayah kecamatan hingga desa.

“Kami memiliki puluhan radar yang tersebar di Indonesia, kemudian data itu dihitung dengan matis-matis, mo-deling, dengan modeling tidak cukup, harus diverifikasi­ dengan data lokal,” jelasnya.

Kendati demikian, tidak dimungkiri data BMKG dapat meleset dari keadaan cuaca sebenarnya. Namun, ia klaim data Indonesia lebih akurat dari data satelit internasional.

“Memang bisa salah, perhitungan itu bukan Tuhan, jadi pasti ada akurasi yang terbatas. Akurasi kami 80% sampai 85%, jadi kalau ada yang meleset sekitar 15%-10% itu keterbatasannya,” pungkasnya.

Ia pun mengingatkan pada 5-10 Januari awan hujan akan berarak dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik. Awan tersebut akan berarak sepanjang ekuator dan memasuki Indonesia lewat Sumatra Barat pada 5 Januari mendatang.

“Masuk ke Kalimantan, menyenggol Pulau Jawa, Bangka Belitung, Jambi, Sumatra Selatan, dan Lampung. Pada tanggal itu, curah hujan intensitasnya diprakirakan meningkat lagi. Biasanya menjelang malam hingga dini hari,” jelasnya. (Medcom/J-1)

BERITA TERKAIT