04 January 2020, 09:10 WIB

Iran Ancam Balas Kematian Soleimani


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/IRAQ MILITARY
 AFP/IRAQ MILITARY
Salah satu kendaraan yang hancur dan terbakar akibat tembakan rudal pasukan Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad, Irak, kemarin.

IRAN kemarin mengancam akan membalas serangan rudal Amerika Serikat yang telah menewaskan pejabat tinggi militernya. Sementara itu, Ke­­menterian Luar Negeri AS telah memerintahkan semua war­ganya untuk segera meninggalkan Irak.

Serangan terjadi kemarin pagi dan menghantam dua kendaraan pasukan Hashed al-Shaabi di ban­­dara internasional Baghdad, Irak. Hashed Al-Shaabi ialah unit paramiliter Irak yang berhu­bungan dekat dengan Iran.

Beberapa jam kemudian, Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan tewasnya Jenderal Qasem Soleimani selaku Panglima Pa­sukan Quds (sayap eksternal Garda Revolusi) bersama wa­kilnya, Abu Mahdi, dan beberapa pejabat lainnya.

“Mereka ialah martir akibat serangan Amerika,” ungkap perwakilan Garda Revolusi Iran.

Sumber-sumber militer menye­but serangan itu menewaskan sembilan orang. Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan serangan dilakukan menggunakan drone.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengancam akan melakukan ‘balas dendam’ terhadap ‘para penjahat yang telah mem­bunuh Soleimani’.

Selain menetapkan masa dukacita selama tiga hari, Khamenei berjanji akan meneruskan perjuangan Soleimani.

Presiden Iran Hassan Rouha­ni menyatakan Iran ber­sama se­kutu-sekutunya akan membalas kejahatan Amerika Serikat. “Gugurnya Soleimani menambah semangat kami untuk melawan Amerika,” tegas Rouhani.

Soleimani, 62, merupakan tokoh po­puler di Iran. Sebaliknya, AS dan sekutunya memandang­nya sebagai musuh berbahaya.

Pentagon juga menyebut Soleimani selama ini aktif meren­ca­nakan serangan terhadap pa­sukan dan diplomat AS di Irak dan Timur Tengah.

Kematian Soleimani membuat puluhan ribu warga Iran turun ke jalanan di Teheran. Mereka membawa poster jenderal tersebut dan berteriak ‘Hancurkan Amerika’.

Kedutaan Besar AS di Baghdad kini telah mendesak semua warga AS untuk segera meninggalkan Irak. Presiden AS Donald Trump memajang gambar ben­de­ra AS tanpa komentar apa pun di akun Twitter-nya.

 

Eskalasi ketegangan

Ketegangan di Irak sebelumnya telah memuncak akibat ke­pung­an demonstran pro-Iran terhadap Kedubes AS di Baghdad. Mereka mengutuk serang­an udara AS yang membunuh se­­dikitnya 25 anggota paramiliter Kataeb Hez­bollah.

Serangan AS itu merupakan ba­lasan terhadap tembakan ro­ket yang menewaskan seorang warga Amerika di pangkalan mi­­liter AS di Irak.

Analis politik menilai serang­an AS terhadap Soleimani bisa menjadi penentu dalam masalah ketegangan AS melawan Iran.

Phillip Smyth, spesialis kelompok bersenjata Shiah misalnya, menyebut serangan tersebut bi­sa berdampak lebih besar daripa­da operasi militer AS terhadap mu­­suh-musuhnya, seperti Osama bin La­den ataupun Abu Bakr al-Bagh­dadi.

Negara-negara lain pun priha­tin terhadap perkembangan di Irak dan Iran. Kemenlu Rusia me­nilai serangan itu merupakan tin­­dakan yang hanya akan memperburuk situasi. Selama ini Rusia dikenal merupakan sekutu Iran.

“Tamat sudah upaya denuklirisasi Iran,” ujar Konstantin Ko­sachev, kepala bidang luar ne­geri di parlemen Rusia.

Di sisi lain, pemimpin Uni Ero­pa, Charles Michel, meminta dihentikannya kekerasan di Irak. “Segala bentuk kemungkinan peningkatan eskalasi ketegangan harus dicegah,” tegas Michel. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT