04 January 2020, 03:00 WIB

Pasukan Turki Siap Bertolak ke Libia


Al Jazeera/Hym/X-11 | Internasional

PARLEMEN Turki kemarin menye­tujui rancangan undang-undang (RUU) tentang pengerahan pasuk­an ke Libia dalam misi mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Langkah itu membuka jalan bagi peningkatan kerja sama militer meskipun ada kecaman dari para legislator oposisi.

“Undang-undang disahkan dengan suara 325 yang mendukung dan 184 menolak,” kata Ketua Parlemen Turki, Mustafa Sentop.

Pemerintah belum mengungkapkan rincian tentang kemungkinan pengiriman tentara Turki. UU tersebut memungkinkan pemerintah untuk memutuskan ruang lingkup, jumlah, dan waktu misi apa pun.

Sebelumnya, parlemen mempersingkat reses musim dinginnya untuk membahas perkembangan di ibu kota Libia, Tripoli. Saat ini, pasukan yang berpihak pada GNA sedang diserang pasuk­an pemberontak, yaitu Tentara Nasional Libia (LNA), pimpinan Khalifa Haftar yang berpangkalan di timur Libia.

Menyusul langkah parlemen Turki tersebut, Presiden AS Do­nald Trump langsung menelepon Presiden Turki, Erdogan, agar Turki tidak ‘mengganggu’ Libia. “Presiden Trump mengemukakan bahwa campur tangan asing akan memperburuk situasi di Libia,” kata juru bicara Gedung Putih, Hogan Gidley.

Intervensi

Perdana Menteri GNA, Fayez al-Sarraj, dan Presiden Erdogan pada November telah menandatangani dua perjanjian yang berkaitan dengan demarkasi perbatasan laut dan peningkatan kerja sama keamanan.

Sementara itu, LNA melancarkan serangan sejak April, tetapi pergerakan mereka terhenti oleh ha­­dangan pasukan propeme­rin­tah yang berada di sepanjang pinggiran Tripoli.

Kehadiran tentara bayaran asal Rusia yang membantu LNA mampu mengubah keseimbangan kekuasaan dan memungkinkan pasukan LNA untuk menguasai kota-kota utama di selatan Tri­poli. Pasukan LNA juga didukung angkatan udara milik Uni Emirat Arab.

Perkembangan ini membuat Erdogan gusar dan mempercepat intervensi Turki, yang di masa lalu terbatas pada penjualan per­alatan militer.

“Tidak tepat bagi kami untuk tetap diam terhadap semua ini,” kata Erdogan, merujuk pada ke­­ha­diran tentara bayaran asal Ru­­sia. (Al Jazeera/Hym/X-11)

BERITA TERKAIT