04 January 2020, 00:00 WIB

Waspadai Inflasi Pascabanjir


Ihfa Firdausya | Ekonomi

Pemerintah diperingatkan untuk mewaspadai kenaikan in­flasi yang dipicu ke­naikan harga dari sektor pa­ngan karena distribusi yang terganggu akibat banjir. Hingga akhir 2019, pemerintah berhasil mempertahankan inflasi di titik terendah.

“Beberapa jalan tergenang, otomatis sembako, seperti beras, cabai yang masuk Jakarta menjadi terhambat, sedangkan harganya nanti bisa jadi lebih mahal,” kata pengamat ekonomi dari Institute for De­­velopment of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, kemarin.

Ia menjelaskan, saat ini seba­gian besar pasokan pangan di wilayah terdampak banjir di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi masih didatangkan dari luar kawasan itu.  Namun, Bhima belum dapat memberikan proyeksi besaran inflasi yang berpotensi terjadi dalam periode Januari.

Ia mengatakan upaya penanganan para korban dan pemulihan dari dampak banjir menjadi fokus perhatian paling utama yang harus dilakukan pemerintah.

Selain itu, tambahnya, pemerintah perlu segera memperbaiki infrastruktur yang rusak agar tidak mengganggu kelancaran arus distribusi.

Menurut Bhima, aksi cepat untuk memperbaiki rumah rusak dan memastikan transportasi umum kembali normal juga perlu diupayakan.

“Selain itu, antisipasi juga perlu dipersiapkan, seperti pompa air di wilayah tergenang harus dioptimalkan. Pencegahan ke depan itu lebih penting,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhari­yan­­to mengatakan banjir yang melanda Jakarta dan se­­kitarnya tidak memberikan dampak yang besar apabila cepat surut dan tidak menggang­gu kelancaran distribusi.

Namun, jika banjir berlarut-larut, itu perlu diwaspadai karena bisa mengganggu stabilitas harga dan memengaruhi­ laju inflasi nasional pada Januari.

BPS mencatat inflasi pada Desember 2019 sebesar 0,34% karena kenaikan harga bahan makanan akibat tingginya per­mintaan menjelang akhir tahun. Sepanjang 2019, BPS menyatakan inflasi sebesar 2,72% atau terendah dalam dua dekade terakhir.

Empat faktor

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkap­­kan ada empat faktor penye­bab rendahnya inflasi. Yang pertama, ke­senjangan antara sisi produksi dan permintaan.

“Tekanan harga dari sisi per­mintaan itu sangat rendah dan itu terlihat utamanya da­ri inflasi inti. Kalau istilah teknisnya disebut kesenjang­an outlook atau outlook gap. Outlook gap-nya itu masih negatif,” jelas Perry.

Kedua, koordinasi pemerintah pusat, daerah, serta BI untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan dan keterjangkauan harganya membuat inflasi kelompok volatile food juga rendah.

Ketiga, stabilnya nilai tukar rupiah dan cenderung apresiasi. Menurut Perry, te­kan­an harga dari eksternal dan global sangat rendah. “Faktor terakhir ialah ter­ja­ganya eks­pektasi harga-harga ke depan,” katanya, kemarin.

Perry juga menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah ter­ha­dap dolar AS yang menguat pada penutupan 2019 sebesar 13.880 menja­di salah satu yang terbaik di Asia.

“Itu merupakan nilai tukar yang terbaik kalau di Asia tentu saja di bawah Thailand, tapi hampir sama dengan Fi­lipina,” katanya.

Perry mengatakan perge­rakan nilai tukar rupiah yang menguat itu mendapat apresiasi sebesar 2,68% sehingga mengindikasikan adanya stabilitas eksternal. (Pra/E-3)

BERITA TERKAIT