03 January 2020, 14:20 WIB

Banjir dan Leptospirosis


FX Wikan Indrarto Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S-3 UGM | Opini

Pexels.com/Medcom.id
 Pexels.com/Medcom.id
Ilustrasi

BANJIR Jakarta dan daerah sekitarnya menyebabkan setidaknya 17 orang meninggal dan lebih dari 31 ribu orang mengungsi. Sementara itu, puncak hujan diperkirakan oleh BMKG baru akan terjadi pada pertengahan Januari hingga Maret 2020. Banjir di Jakarta dan seluruh Indonesia yang memasuki musim hujan akan meningkatkan kejadian leptospirosis. Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Leptospirosis adalah penyakit akibat infeksi bakteri Leptospira sp yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada 1886 oleh Adolf Weil dengan gejala panas tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa. Penyakit dengan gejala di atas, oleh Goldsmith 1887 disebut sebagai weil’s disease. Pada 1915 Inada berhasil membuktikan bahwa weil’s disease disebabkan oleh bakteri Leptospira icterohemorrhagiae.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (DP2P) Kementerian Kesehatan RI Anung Sugihantono, Kamis (21 Februari 2019), menyebutkan adanya 31 kasus leptospirosis di Jakarta pascabanjir. Selain di Jakarta, kasus leptospirosis juga terjadi di tujuh provinsi lainnya di Indonesia dalam periode 2018 hingga Januari 2019. Di Banten, 104 kasus terjadi dengan korban meninggal 26 orang. Sementara itu, di Jawa Barat ditemukan 2 kasus tanpa korban meninggal, 186 kasus leptospirosis terjadi di DIY dengan jumlah korban meninggal 16 orang. Kemudian 427 kasus ditemukan di Jawa Tengah dengan korban meninggal 89 orang serta 128 kasus serupa ditemukan di Jawa Timur dengan 10 korban meninggal.

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urine (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir. Kejadian leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Leptospirosis dapat juga mengenai anak yang tinggal di lingkungan padat perkotaan dengan banyak tikus rumah yang berkeliaran.

Waspadai gejala

Masa inkubasi leptospirosis pada manusia, yaitu 2 hingga 26 hari. Infeksi leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis, apalagi pada infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat. Hampir 40% penderita terpapar infeksi tidak bergejala, tetapi pemeriksaan serologis positif. Sekitar 90% penderita akan mengalami kuning ringan, sedangkan 5% kuning berat yang dikenal sebagai penyakit weil. Perjalanan penyakit leptospira terdiri atas 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase imun. Pada periode peralihan fase, selama 1-3 hari kondisi pen-derita mungkin terlihat membaik.

Fase septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal, dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot.

Gejala lain ialah sakit tenggorok-an, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meni-ngitis), serta pembesaran limpa dan hati. Fase imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin dan mungkin tidak didapatkan lagi wdari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respons pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu, seperti selaput otak, hati, mata, atau ginjal.

Jika yang diserang ialah selaput otak, akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala. Pada pemeriksaan hati dida-patkan kulit kuning, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa perdarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau peri-karditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun.

Sindrom weil ialah bentuk leptospirosis berat yang ditandai kulit dan mata kuning atau jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. Penderita dengan kuning berat lebih mudah terkena gagal ginjal, perda-rahan, dan kolaps kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40%.

Diagnosa leptospirosis biasanya dilakukan dengan pemeriksaan serologis. Antibodi dapat ditemukan di dalam darah pada hari ke-5-7, sesudah adanya gejala klinis. Selain pemeriksaan serologis, untuk me-ngonfirmasi infeksi leptospirosis ialah microscopic agglutination test (MAT). Kultur atau pengamatan bakteri Leptospira di bawah mikroskop berlatar gelap umumnya tidak sensitif. Selain itu, diagnosis juga dapat dilakukan melalui pengamatan bakteri Leptospira pada spesimen organ yang terinfeksi dengan menggunakan imunofloresen.

Leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, amoksisillin, eritromisin, dan antibiotika yang lebih baru. Meski demikian, keterlambatan pengobatan, kesalahan diagnosis, ataupun terjadinya sindrom weil dapat meningkatkan angka kematian atau CFR (case fatality rate).

Penelitian eksperimental semu yang dilakukan di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, oleh Ristiyanto (2011) untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus leptospirosis layak ditiru. Kegiatan intervensi untuk pencegahan penularan leptospirosis pada masyarakat berupa penyebaran leaflet, poster, baliho, dan penyuluhan.

Pada tempat penampungan air dan genangan air diberi sodium hipoklorit, pengendalian tikus di dalam rumah menggunakan perangkap kawat, dan luar rumah, terutama di sawah meggunakan LTBS (linier trap barrier system). Penyuluhan tentang upaya pencegahan leptospirosis merupakan upaya yang efektif untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan leptospirosis.

Hal serupa juga diperoleh pada penelitian Ike Irmawati Purbo Astuti (2017) di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pemberian sodium hipoklorit di tempat penampungan air akan meningkatkan kadar klorin rata-rata 2,5 mg/l dan penggunaan LTBS dapat mengurangi populasi tikus. Sudahkah kita waspada akan leptospirosis saat musim hujan dan banjir ini?

BERITA TERKAIT