03 January 2020, 11:45 WIB

Disetujui Parlemen, Turki Siap Kirim Pasukan ke Libia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Tentara Turki siap membantu pasukan pemerintah Libia

PARLEMEN Turki telah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk mengerahkan pasukan ke Libia dalam misi mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Langkah itu membuka jalan bagi peningkatan kerja sama militer meskipun ada kecaman dari para legislator oposisi.

Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop mengatakan, Kamis (2/1) waktu setempat, undang-undang disahkan dengan suara 325 yang mendukung dan 184 menolak.

Pemerintah belum mengungkapkan rincian tentang kemungkinan penyebaran tentara Turki. Gerakan ini memungkinkan pemerintah untuk memutuskan ruang lingkup, jumlah, dan waktu misi apa pun.

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa, tempat Presiden Recep Tayyip Erdogan bernaung, dan sekutunya memegang mayoritas parlemen. Semua partai oposisi penting dalam majelis memilih menentang RUU tersebut.

Parlemen mempersingkat reses musim dinginnya untuk membahas perkembangan di ibu kota Libia, Tripoli, tempat pasukan yang berpihak pada GNA sedang membalas dorongan baru oleh komandan militer pemberontak Khalifa Haftar yang berpangkalan di timur untuk merebut kendali kota.

Setelah pengumuman itu, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Erdogan terhadap ‘gangguan’ apa pun di Libia melalui panggilan telepon.

“Trump mengemukakan campur tangan asing mempersulit situasi di Libia,” kata juru bicara Gedung Putih Hogan Gidley dalam sebuah pernyataan.

Perdana Menteri GNA, Fayez al-Sarraj, dan Presiden Erdogan pada November menandatangani dua perjanjian yang berkaitan dengan demarkasi perbatasan laut dan meningkatkan kerja sama keamanan.

Tentara Nasional Libia (LNA) yang diarsiteki Haftar melancarkan serangan pada April, tetapi kemajuan mereka terhenti oleh pasukan propemerintah di sepanjang pinggiran selatan kota.

Namun, kehadiran tentara bayaran Rusia yang dilaporkan dari kelompok privat Wagner pada September mengubah keseimbangan kekuasaan dan memungkinkan pasukan LNA untuk menguasai kota-kota utama di selatan Tripoli.

Bersamaan dengan peningkatan jumlah serangan udara Uni Emirat Arab untuk mendukung Haftar, perkembangan Rusia tampaknya telah membuat Erdogan gusar dan mempercepat intervensi Turki, yang di masa lalu terbatas pada penjualan peralatan militer.

"Tidak tepat bagi kami untuk tetap diam terhadap semua ini," kata Erdogan pada Desember, merujuk pada kehadiran pejuang Rusia.

Sejak pemimpin lama Muammar Gaddafi digulingkan pada 2011 oleh intervensi militer NATO yang diotaki Prancis dan Inggris, Libia belum memiliki pemerintahan yang stabil. (Al Jazeera/AFP/A-1)

BERITA TERKAIT