03 January 2020, 10:55 WIB

Bersihkan Bursa dari Manipulator


Ihfa Firdausya | Ekonomi

UNTUK mewujudkan bursa saham di Indonesia berintegritas, Presiden Joko Widodo meminta pihak berwenang membersihkan bursa dari praktik tidak benar.

Jokowi menyatakan hal ini pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2020, di Main Hall, Gedung BEI, Jakarta, kemarin.

“Jangan kalah dengan yang jahat-jahat, udah hati-hati, harus bersih, berintegritas, dan berani,” kata Presiden.

Jokowi mengakui awalnya ada guncangan sedikit, tetapi dalam jangka menengah dan panjang pasti lebih baik. Oleh karena itu, Presiden mengingatkan jangan sampai ada lagi (harga saham) dari Rp100 digoreng-goreng menjadi Rp1.000, goreng-goreng jadi Rp4.000.

“Ini menyangkut kepercayaan. Praktik goreng-gorengan saham yang menimbulkan korban dan kerugian tidak boleh ada lagi. Berikan perlindungan kepada investor,” tegas Presiden.

Kepala Negara meminta agar manipulasi pasar dan transaksi keuangan yang menjurus fraud dan kriminal ditindak tegas. Presiden berharap tahun ini menjadi momentum bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI membersihkan pasar modal dari para manipulator yang sering memanipulasi.

“Kalau manipulator, berarti sering memanipulasi yang nggak bener dipoles-poles jadi bener, yang 100 tadi dipoles-poles jadi 4.000,” ujar Presiden.

Dia mengutip statement Ketua OJK yang menyampaikan dari survei Bloomberg bahwa perekonomian Indonesia nomor satu di antara negara emerging market.

Dari survei terhadap 57 pemain saham,  ahli strategi ivestasi, dan investor top dunia tentang negara emerging market yang paling diminati untuk berinvestasi pada 2020, yaitu saham, obligasi, dan mata uang, Indonesia berada di posisi teratas.

“Kepercayaan itu jangan hi lang gara-gara manipulator yang hanya mengambil untung untuk diri sendiri,” ungkap Jokowi.

Indeks positif

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, mengungkapkan institusinya juga tidak henti-hentinya berupaya meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Terdapat tiga kebijakan penting untuk mencapai tujuan di atas. Pertama, meningkatkan standar di pasar perdagangan melalui transparansi laporan keuangan. Kedua, meningkatkan peran pasar modal untuk berbagai proyek pembiayaan terutama prioritas pemerintah. Terakhir, menarik UMKM dan investor retail.

Sejauh ini, kinerja pasar modal cukup membanggakan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, indeks saham bisa tumbuh.

“IHSG masih tumbuh positif, yaitu 1,7%. Ini moderat meskipun tidak seperti ekspektasi kita sehingga kemarin ditutup pada angka 6.299,5,” kata Wimboh.

Pengamat pasar modal dan Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, meminta investor lebih jeli berinvestasi.

“Kalau saham naik, tentu nggak langsung lari kenceng banget, tetapi bertahap naiknya. Jadi, yang Pak Jokowi bilang dari 100 jadi 1.000 menjadi 4.000 itu bisa terjadi. Untuk mendeteksi saham gorengan kita harus membuktikan apakah ada manipulasi harga. Mungkin (BEI dan OJK) bisa mengedukasi investor. Saya melihat investor banyak yang nggak paham,” tandas Hans. (Mir/Ant/X-3)

BERITA TERKAIT