02 January 2020, 22:28 WIB

SDM Indonesia Harus Sesuai Dengan Zaman


Baharman | Humaniora

Ist
 Ist
Diskusi LDII

SUMBER daya manusia (SDM) Indonesia harus memiliki kemampuan dan keahlian yang sesua dengan perkembangan zaman

Menurut Ketua DPP Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII) Prasetyo Sunaryo, hal tersebut seiring dengan pesatnya teknologi menyebabkan disrupsi, terlebih lagi penyebaran informasi.

‘’Untuk itu LDII mendorong perlunya peningkatan kualitas SDM bercirike-Indonesia-an,’’ papar Sunaryo dalam diskusi di kantor LDII Jakarta, kemarin.

Dulu, urainya, saat Nabi Adam diturunkan Allah untuk menebus dosanya ke bumi, ia dilengkapi dengan ekosistem agar bisa hidup. Demikian bangsa Indonesia ditempatkan dengan tiga ciri, yaitu negeri vulkanik, negeri tropis, dan negeri kelautan.

Maka kualitas SDM yang harus dipersiapkan harus  bisa mengurus tiga hal tersebut. Pertama SDM yang mampu menggali aset negara vulkanik. Indonesia memiliki bentang alam dengan 68 gunung berapi aktif, kaya akan sumber daya mineral.

Kedua, Indonesia disebut negara tropis sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Maka harus memiliki SDM yang mampu mengolah sumber daya hayati. Contohnya soal pengobatan, saat ini Indonesia impor 90 persen obat. Padahal, saat era Kerajaan Majapahit, pengobatan memanfaatkan tumbuhan herbal.

Ketiga adalah kelautan. Karena Indonesia negara maritim, SDM harus mampu mengelola sumber daya peseisir. Misal potensi perikanan, transportasi, minyak dan gas. SDM berkualitas  dibutuhkan untuk bisa mengembangkan teknologi yang diperlukan oleh kondisi bangsa Indonesia.

“Abad 21 menuntut setiap bangsa mampu berinovasi untuk menyelesaikan persoalannya masing-masing di abad 21 dengan ciri masing-masing persoalannya. Maka persoalan Indonesia abad 21 harus diselesaikan dengan cara-cara abad 21,” ujarnya dalam diskusi yang dihadiri nara sumber lainnya Chriswanto Santoso, Hasim Nasution dan Iskandar.

Prasetyo Sunaryo menambahkan ia. menukil laporan Bank Dunia, yang menyebut  Indonesia darurat learning poverty alias miskin belajar.

Meski Indonesia memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada posisi 111 dari 189 negara dengan kualitas hidup manusia yang membaik, namun keadaan ini masih mengkhawatirkan. Menurut dia, sepertiga anak-anak Indonesia mengalami learning poverty.

“Generasi muda kita sedang dalam posisi learning poverty alias miskin belajar. Artinya, terdapat semacam kesulitan belajar, malas belajar, ini harus diantisipasi untuk meningkatkan kualitas SDM kedepan,” ujarnya.

Dia mengingatkan menyiapkan pendidikan berkualitas merupakan tantangan seluruh komponen bangsa dan tanggung jawab bersama, agar terwujud SDM berkualitas sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia abad 21. (RO/OL-11)

 

BERITA TERKAIT