01 January 2020, 18:11 WIB

Banjir Bandang Lahat Hanyutkan Sejumlah Rumah Warga


Dwi Apriani | Nusantara

MI/Dwi Apriani
 MI/Dwi Apriani
Gubernur Sumsel Herman Deru tinjau jembatan roboh di Lahat

BANJIR bandang yang terjadi di Kecamatan Mulak Ulu Sebingkai, Lahat, Sumatra Selatan tidak hanya membuat jembatan ambruk. Akibat banjir bandang itu juga merusak puluhan rumah di kecamatan tersebut bahkan tujuh diantaranya hanyut dibawa derasnya banjir. Selain itu sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, musolah dan sebagainya juga rusak.

Kerusakan terparah terjadi di Desa Keban Agung, Kecamatan Mulak Ulu Sebingkai. Menurut data dari BPBD Kabupaten Lahat, 74 rumah rusak ringan, 10 rumah rusak berat karena terbawa hanyut arus sungai dan sejumlah fasilitas umum seperti Kantor Camat, Gedung PAUD dan pada juga rusak. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

"Personel sudah kita terjunkan kelapangan, kita akan bangun tenda untuk masyarakat, serta menyalurkan bantuan  logistik," Kata Kepala BPBD Lahat, Marjono.

Forkominda Lahat sudah turun langsung melihat korban dan dampak dari banjir bandang. Mereke meninjau lokasi dan memberikan bantuan logistik kepada korban banjir.

Tidak hanya itu, Gubernur Sumsel Herman Deru bersama Forkopimda Sumsel pun turun langsung. Mereka juga melihat dari dekat para korban dan pokso penanganan banjir desa Keban Agung Kecamatan Mulak Sebingkal Kabupaten Lahat.

"Saya bersama Pak Pangdam, Pak Kapolda, Pak Bupati lengkap hadir hadir disini  ikut prihatin  turut merasakan apa yang dialami warga di sini. Paling tidak kehadiran kami ini dapat mengurangi rasa  gundah warga, seligus mencari solusi yang terbaik dalam upaya penanganan pasca bencana banjir ini,” ujar Herman Deru, Rabu (1/1).

Ia pun berjanji akan turut memberikan bantuan untuk perbaikan dan pembangunan kembali bagi rumah yang hanyut dan rusak diseret derasnya banjir. Selain merusak 10 unit rumah dengan kerusakan berat karena terbawa hanyut arus sungau dan 74 unit lagi rusak ringan.

Banjir juga menghanyutkan 24 hektar padi siap panen sekaligus mengakibatkan rusaknya saluran irigasi  sepanjang 500 meter. "Saya telah mendapatkan laporan ada 10 unit rumah yang rusak dan mendesak dilakukan  perbaikan. Kita sudah sepakat dengan pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Lahat untuk tidak dibebani  pada  masyarakat yang menjadi korban.  Adapun proses  pembangunan kembali rumah  warga paling lama satu bulan termasuk fasilitas umum lainnya,” tambahnya.

Herman Deru berharap pada aparat keamanan TNI/Polri untuk memberikan bantuan terutama pengawasan  keamanan selama proses  pembangunan rumah dan pasilitas umum. Di samping itu dia menyebut  selain kerusakan rumah tempat tinggal dan pasilitas umum, banjir banding di Kabupten Lahat kali ini juga merusak jaringan suplay listrik.

"Selain rumah dan paslitas umum yang rusak, banjir bandang kali ini juga  merusak 24 hektar sawah serta sempat memutuskan jaringan listrik, karena itu saya mengintrusikan kepada PLN, paling lama 1×24  jam kedepan  listrik kembali menyala dengan normal,” harapnya.

Untuk korban banjir Gubernur Herman Deru memberikan bantuan sembako berupa 3,5 ton beras, matras 22 paket, selimut 22 lembar, seragam dan perlengkapan anak sekolah serta kelengkapan peralatan banyi dan bantuk bantuan material lainnya.

Lalu, Herman Deru juga meninjau kondisi jembatan Air Mulak yang rusak penghubung desa Pengentaan dan desa Lesung Batu Kecamatan Mulak Ulu Kabupaten Lahat. Dikatakan Herman Deru, dirinya mengambil langkah  untuk membuat jembatan darurat (jembatan bailey).  Dengan waktu pengerjaan  paling tidak dua bulan karena harus membentang diatas arus sungai yang deras sepanjang 100 meter.

Hal ini diupayakan untuk  menekan terjadinya perlambatan putaran roda ekonomi warga dampak dari putusnya jembatan jembatan Air Mulak yang hannyut diterjang banjir beberapa hari lalu.

"Paling tidak dengan adanya jembatan darurat ini nanti mobil-mobil kecil, sepeda motor, sepeda, pejalan kaki, anak sekolah hingga para pedagang tidak terganggu aktifitasnya," ujarnya.

Ia menilai putusnya jembatan dikawasan itu tidak selalu karena faktor alam namun juga dampak dari kelalaian manusia. Karena itu dia mengingatkan agar aktifitas warga yang menambang batu kali sekitar jempatan untuk memikirkan kepentingan umum.

Mengingat aktifitas penambangan batu kali yang tidak terkendali menyebabkan  beralihnya aliran sungai disaat air pasang sehinga menerjang  beton tiang jembatan. "Kita ambil hikmahnya dari kejadian ini. Untuk itu aktifitas penambangan pasir dan batu kali harus dipantau. Disini peran pemerintah desa dan aparat kemanan sangat kita nantikan,” tandasnya. (OL-11)

BERITA TERKAIT