01 January 2020, 00:30 WIB

Prediksi Masa Depan Dunia Kerja 2030 Versi Dell


Cahyandaru Kuncorojat | Humaniora

 Forbes
  Forbes
Ilustrasi 

DELL menerbitkan laporan berjudul Masa Depan Dunia Kerja (Future of Work). Laporan ini merupakan hasil kerja sama dengan kelompok peneliti masa depan independen, Institute for the Future (IFTF).
 
Laporan inimenelaah bagaimana kehadiran berbagai teknologi baru akan membentuk lingkungan kerja dalam sepuluh tahun ke depan dengan semakin meningkatnya kemitraan antara manusia dan mesin.
 
Kecerdasan Buatan (AI), Realitas Tertambah (XR) dan Internet of Things (IoT) terus mendukung gelombang inovasi berkelanjutan dan disrupsi yang dihasilkan terhadap model-model bisnis tradisional.

Semua kemajuan teknologi ini adalah kekuatan mutlak yang akan berdampak pada masa depan dunia kerja, yang akan mendukung lingkungan kerja yang lebih inklusif dan seimbang di tahun 2030.
 
Laporan The Future of Jobs 2018 yang diterbitkan World Economic Forum menemukan bahwa di 2018, rata-rata 71 persen total waktu bekerja dilakukan oleh manusia, dibandingkan dengan 29 persen oleh mesin. Pada tahun 2022, WEF memperkirakan rata-rata persentase tersebut akan berubah menjadi 58 persen pekerjaan dilakukan oleh manusia dan 42 persen oleh mesin.
 
Laporan ini wawasan tentang bagaimana kolaborasi AI, interface multimoda, realitas tertambah (XR), dan teknologi penyebaran buku besarakan bersinggungan dengan kekuatan sosial dan ekonomi yang terus berkembang.
 
Laporan tersebut juga menyoroti tiga perubahan yang bisa membantu membentuk lingkungan kerja yang lebih inklusif dan memuaskan selama satu dekade ke depan.
 
Perubahan pertama adalah tenaga kerja inklusif. Kemitraan antara manusia dan mesin akan menciptakan kesetaraan di tempat kerja yang lebih baik, dengan kandidat dievaluasi berdasarkan kemampuan mereka, bukan berdasarkan gender, umur atau tingkatan sosial.
 
62 persen pemimpin bisnis di Indonesia berharap penggunaan berbagai teknologi baru bisa menciptakan kesetaraan kesempatan dengan menghilangkan faktor bias manusia dalam proses pengambilan keputusan.
 
Dengan teknologi baru yang imersif seperti XR, kolaborasi antar karyawan bisa mempercepat pemberdayakan para pekerja. Sebanyak 89 persen pemimpin bisnis di Indonesia berencana untuk menggunakan berbagai teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja mereka.
 
Perubahan ketiga adalah Kemampuan manusia yang tidak akan tergantikan oleh AI. Pemahaman mendalam tentang AI serta sistem kemitraan antara manusia dan mesin akan membuka potensi manusia dan menciptakan pekerjapekerja AI terampil. 80 persen pemimpin bisnis di Indonesia menyambut baik konsep kemitraan manusia dengan mesin/robot.
 
“Dalam berbagai diskusi dengan CIO, sebagian besar menyatakan bahwa produktivitas, dan kini realitas gabungan (MR), adalah perhatian utama mereka. Mereka ingin tahu cara membuat perangkat untuk stimulasi, baik itu untuk bidang medis, manufaktur atau teknik,” ucap Richard Jeremiah, General Manager, Indonesia, Dell Technologies.
 
“Organisasi-organisasi yang sukses menerapkan transformasi digital akan lebih unggul dibandingkan mereka yang masih bertahan dengan sistem lama, aliran data yang melebihi kapasitas (data deluge) dan tenaga kerja yang tidak mau berubah.
 
Sebanyak 48 persen pemimpin bisnis di Indonesia memprediksi pekerja generasi berikutnya akan memiliki kemampuan mendisrupsi dengan keterampilan dan cara berpikir digital yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka, sementara 54 persen pemimpin bisnis global menyatakan hal yang sama.”(Medcom/OL-12)
 

BERITA TERKAIT