31 December 2019, 16:00 WIB

Melampaui Reruntuhan Temporalitas


Max Regus, Dekan FKIP UNIKA ST. Paulus Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur | Opini

MI/Seno
 MI/Seno
Ilustrasi

DISKURSUS tentang ‘waktu’ juga ‘kesementaraan’ (temporalitas) menyesaki mulut dan kepala kita pada hari-hari ini. Kita berada pada langkah-langkah pamungkas tahun yang sebentar lagi pergi. Sebagian sedang membangun ikhtiar merekam jejak-jejak pertama pada tahun yang menyembul pelan pada kalender waktu. Kita terdampar pada dinding pertanyaan tentang makna hidup. Tentang masa depan manusia. Tentang keterpurukan yang masih berlanjut. Tentang sejarah yang tidak sedang baik-baik saja.

Banyak ilmuwan datang dan pergi, menceriterakan fenomena kunci sejarah manusia. Peter L. Berger (1974) merenungkan sejarah sebagai sebentuk tumpukan korban dalam the Pyramid of Sacrifice (1974). Samuel P. Huntington menulis tentang sejarah yang terkurung dalam benturan, konflik, dan ketegangan dalam karya monumentalnya the Clash of Civilization and the Making of World Order (1996). Antony Giddens memaparkan ‘jalan ketiga’ politik global dengan menggagas kelahiran demokrasi sosial dalam the Third Way (1998). Semuanya berusaha membangun jembatan bagi jutaan potongan ingatan yang tercecer dalam ruang sejarah.

Sisi Gelap

Waktu, entah sebagai pengalaman personal, komunal, politis, kultural, dan keagamaan selalu memiliki sisi gelap (dark side). Sebagai contoh Jorge Heine dan Ramesh Thakur mengulas sisi gelap ini dalam buku the dark side of globalization (2011). Sejarah hanya sebagai arena bagi mesin globalisasi belaka. Globalisasi memabukkan manusia. Para pendukung globalisasi membombardir ingatan publik. Bagi mereka, hanya globalisasi yang memiliki kemanjuran mengobati pandemi kemiskinan umat manusia. Sebagian kalangan, sejak lama, memang percaya bahwa ‘universalisasi’ ekonomi-politik dunia niscaya secara cepat menghadirkan kemakmuran dan kemajuan.

Namun, globalisasi juga mendapatkan penentangan meluas. Globalisasi hanya menjadi kendaraan politik perdagangan kelas imperialis korporat global. Mereka memiliki panduan ideologis tunggal yang bersandar pada prinsip akumulasi profit (profitisasi). Penjarahan tanpa batas menjadi watak bawaan kekuatan ekonomi kapitalis global. Globalisasi juga dikuntit pelepasan kekuatan negatif sebagai akibat dari kompresi waktu dan ruang di bawah kendali teknologi informasi super canggih. Beberapa dari antaranya dapat kita sebut seperti transnasionalisasi terorisme, gerakan radikalisme global, perdagangan narkoba, perdagangan manusia, kejahatan terorganisir, pencucian uang, dan pandemi global.

Zero Trafficking Networking (ZTN), sebuah inisiatif nasional (Indonesia) dalam menggagas ‘perang’ melawan kejahatan perdagangan manusia (human trafficking) di Indonesia, mencatat sisi gelap sejarah ekonomi global ini. Hingga beberapa hari di penghujung tahun 2019 ini, ZTN mencatat 143 jenazah pekerja migran dari Provinsi NTT. Globalisasi ekonomi ini membuat pengalaman-pengalaman kehancuran kemanusiaan berada semakin dekat dengan kita. Kita mengadapi tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh sisi gelap sejarah di bawah bayang-bayang globalisasi.

Keruntuhan

Dari sedikit cerita tentang sejarah, kita menemukan satu bentangan kenyataan bahwa waktu sekian lama telah menjadi arena kontestasi, negosiasi, ketegangan, dan konflik. Di masa lalu, dengan akibat mencemaskan yang menguntit kita di kekinian, kemampuan dan kemauan membangun dialektika konstruktif antara sejarah manusia dan sejarah alam tidak menjadi bagian dari kearifan pembangunan. Penghargaan atas cara-cara etis dalam menggalang sistem dan mekanisme interaksi simbiosis manusia-lingkungan (human and nature) tidak menjadi bagian dari cetak biru (blueprint) pembangunan peradaban.

Sejarah terus merekam dengan sangat baik bagaimana manusia memperlakukan bumi yang makin renta ini. Kisah ‘keruntuhan’ peradaban tercatat sebagai salah satu bab utama di sana. Kritik yang dilancarkan terhadap politik pembangunan pada hampir semua level adalah keterpisahan pendekatan pembangunan dari kesadaran ekologis dan kemanusiaan. Kerakusan yang bergerak membabi-buta dalam mesin-mesin kapitalisme global dan kelas komprador mereka di ranah nasional dan regional menciptakan keterpurukan ekologis—dan sekaligus perubahan iklim yang mengirim alarm kematian.

Keruntuhan itu begitu gamblang bergerak mendekati kita. Politik pembangunan memperlihatkan cacat metodologis akut. Dua fenomena paling kentara berada pada dua soal ini. Pertama, mesin ekonomi kapitalistik bekerja tanpa kontrol demi meraup keuntungan tanpa batas. Kerakusan telah menimbulkan kelangkaan penopang kehidupan bagi sebagian besar orang dalam hitungan jangka panjang. Kedua, ketika politik pembangunan yang dikendalikan ideologi kerakusan maka hanya ada kekalahan di pihak masyarakat lokal (asli). Keuntungan yang menggunung di pihak pemilik modal dibayar mahal dengan keterbatasan pertumbuhan (the limit of growth) hidup yang layak bagi sebagian besar orang.

Kairologis           

Sejumlah tahun yang datang dan pergi hanya sebatas onggokan angka waktu kronologis semata. Tetapi, tentang bagaimana kita membuat dunia dan kehidupan sebagai basis kebermaknaan yang melampaui keruntuhan yang tercatat dalam ruang temporalitas merupakan dimensi kairologis (menentukan) masa depan sejarah dan peradaban manusia. Di satu sisi, kita mungkin menghadapi fluktuasi jangka pendek yang hanya memengaruhi beberapa aspek kehidupan kita yang terbatas. Namun, di sisi lain, akumulasi krisis multi-dimensional cenderung mengirim kehidupan menuju keruntuhan masa depan secara konstan.

Di titik ini, diskusi tentang masa depan umat manusia mesti merujuk pada bagaimana fitur-fitur fundamental penting dari kondisi umat manusia dapat menopang harapan jangka panjang kehidupan. Kita menyaksikan skala perubahan lingkungan saat ini menjadi semakin mengkhawatirkan. Dunia sedang membutuhkan masyarakat global untuk mengarahkan dirinya kembali ke masa depan yang lebih berkelanjutan. Dunia yang menggerakkan keadilan antargenerasi dan kelestarian lingkungan ke puncak ‘agenda politik’—dan ke inti sistem kepercayaan pribadi dan sosial. Ternyata, inovasi ilmiah dan teknologi sedemikian canggihpun memang tidak cukup. Komunitas global, Masyarakat sipil, korporasi, dan pemerintah, lembaga akademik dan penelitian, individu perlu menyesuaikan nilai-nilai dan kepercayaan bersama di mana ‘keberlanjutan’ menjadi paradigm baru sikap etik-sosial masyarakat global.

Jalan melampaui reruntuhan temporalitas, jika tidak sepenuhnya benar, memerlukan perubahan transformasional (transformational change). Manusia akan mengalami apa yang disebut dengan ‘tahun terbaik’ dalam lembaran sejarah ketika instrumen-instrumen peradaban yang nampak pada lembaga-lembaga sosial, politik, ekonomi, kebudayaan nicaya mendorong penataan kembali nilai-nilai sosial. Proses ini pada aspek pertama mesti mampu memunculkan ‘kemendesakan’ dalam diri setiap individu, komunitas sosial, lembaga politik, pemerintah, untuk bertindak secara etis sebagai bagian integral dari masyarakat global yang saling berhubungan.

BERITA TERKAIT