31 December 2019, 15:45 WIB

Sudan Vonis Mati 29 Perwira karena Bunuh Guru


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PENGADILAN Sudan menjatuhkan hukuman mati terhadap 29 perwira intelijen atas penyiksaan dan pembunuhan seorang guru.

Ahmad al-Khair, 36, meninggal dalam tahanan pada Februari setelah penangkapannya karena mengambil bagian dalam protes terhadap pemerintah Presiden Omar al-Bashir.

Itu adalah hukuman pertama yang dijatuhkan atas tindakan keras terhadap aktivis prodemokrasi pada bulan-bulan sebelum Bashir digulingkan di bulan April.

Jaksa mengatakan hukuman mati adalah hukuman yang adil. Setelah vonis dijatuhkan, hakim bertanya kepada saudara laki-laki al-Khair, Sa'd, apakah ingin mengampuni 29 orang tersebut. Sa'd tetap ingin mereka dieksekusi sesuai putusan pengadilan.

Seorang pengacara pembela lantas mengatakan akan mengajukan banding.

Pengadilan menemukan Ahmad Al-Khair dipukul dan disiksa sampai tewas oleh petugas di pusat penahanan di negara bagian timur Kassala.

Di bawah mantan Presiden Bashir, Sudan memberlakukan hukuman mati, dua orang sudah dieksekusi pada 2018.

Baca juga: Perdamaian Tercapai di Sudan

Kasus Ahmad Al-Khair menarik perhatian luas. Pembunuhan itu juga memicu protes terhadap Bashir yang berusia 75 tahun. Orang-orang berdemonstrasi di luar pengadilan di Omdurman, kota kembar ibu kota, Khartoum, untuk mendengar putusan.

Setidaknya 170 orang terbunuh dalam penumpasan berbulan-bulan terhadap gerakan protes. Bashir akhirnya digulingkan oleh militer, 30 tahun setelah ia mengambil alih kekuasaan melalui kudeta.

Awal bulan ini, dia dihukum dua tahun karena korupsi. Pengadilan memutuskan ia harus menjalani hukuman di fasilitas pemasyarakatan, karena terlalu tua untuk dipenjara.

Kasus korupsi dikaitkan dengan pembayaran tunai US$25 juta yang diterimanya dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Bashir juga menghadapi dakwaan lain, termasuk terkait dengan kudeta 1989 yang membawanya ke kekuasaan bersama dengan genosida dan pembunuhan demonstran.(BBC/OL-5)

BERITA TERKAIT