31 December 2019, 10:20 WIB

Jumlah Korban Tewas Akibat Bom Mobil di Mogadishu Jadi 81 Orang


Deri Dahuri | Internasional

KELOMPOK bersenjata Al-Shabab mengklaim bertanggung  jawab atas  ledakan bom mobil pada Sabtu (28/12) yang mengguncang ibu kota Somalia, Mogadishu. Bom mobil tersebut menewaskan sedikitnya 81 orang. Aparat keamanan setempat mengatakan serangan ‘direncanakan oleh satu negara asing’.

Serangan menghantam satu pos pemeriksaan yang berada di wilayah barat laut Mogadishu.  Serangan bom mobil yang membuat sejumlah kendaraan hancur yang berada di persimpangan jalan menjadi serangan yang mematikn dalam dua tahun tahun terakhir di negara Tanduk Afrika.

Selain menewaskan sedikitnya 81 orang, puluhan orang juga terluka. Jumlah korban sangat banyak karena ledakan bom mobil berada di dekat pos pemeriksaan dan kantor pajak yang memungut retribuysi dari kendaraan truk dan bus.

“Kami melakukan serangan...dengan target konvoi tentara bayaran Turki dan milisi murtad yang mengawal mereka,” kata Sheik Ali Mohamud Rage,  juru bicara Al-shabab  dalam pernyataannya yang direkam.  

Di antara korban yang tewas adalah 16 mahasiswa dari Universitas Bandir yang sedang menaiki bus yang melintas di persimpangan jalan saat terjadi ledakan bom yang dikendali kan dari jarak jauh.

Mogadishu kerap dihantam bom yang dilakukan kelompok Al-Shabab yang telah melakukan perlawanan selama lebih dari 10 tahun untuk menggulingkan pemerintah Somalia.

Tetapi untuk pertama kalinya, Al-Shabab meminta maaf atas korban warga sipil. Kelompok pemberontak bersenjata mengaku bahwa serangan yang dilakukannya hanya aparat negara Somalia dan orang-orang asing yang mendukung pemerintah Somalia.

Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas korban tewas yang berdampak kepada warga muslim Somalia dan kami menyatakan duka endalam kepada muslim yang kehilangan nyawa atau terluka atau barang-barang miliknya hancur,” kata juru  bicara  Al-Shabab.

Namun biasanya kelompok bersenjata tersebut tak mau mengklaim serangan yang dilakukannya jika jumlah korban sipil yang tewas banyak. Mereka khawatir masyarakat semakin antipati terhadap kelompok Al-Shabab.

Pesan yang disampaikan Al-Shabab menyatakan tuduhan bahwa Turki berusaha menguasai sumber Somalia terkait tewasnya serangan bom yang menyasar warga Turki yang sedang membangun sebuah jalan.

Tak hanya itu, Turki adalah negara donor dan investor besar di Somalia, khususnya untuk sumbangan kemanusian dan pembangunan. Perusahaan Turki juga membangun dan mengembangkan pelabuhan dan bandara di Mogadishu.

Sementara itu, Badan Keamanan Somalia (Nisa) mengatakan serangan direncanakan negara luar. Dalam Twitter-nya, Nisa menulis pemerintah Somalia telah mendapat laporan akan terjadi serangan. Namun Nisa tak menyebut negara yang dimaksud.

Serangan udara AS

Hingga Senin (30/12), jumlah korban tewas akibat serangan bom meningkat menjadi 81 orang setelah dua korban lukan berat meninggal. Demikian laporan Kementerian Informasi Somalia.

Salah satu korban tewas yang sebelumnya terluka diterbangkan ke Turki dengan pesawat militer Turki pada Minggu (29/12).

Serangan Sabtu tersebut menjadi serangan dengan korban terbanyak yang menghantam Somalia sejak 2017. Saat itu sebuah mobil tanki yang membawa bahan meledak di Kota Mogadishu dengan menewaskan lebih dari 500 orang.

Pada 2010, Al-Shabab menyatakan bergabung dengan Al-Qaeda.  Kini anggota milisi Al-Shabab telah meninggalkan Mogadishu dan banyak kehilangan wilayah yang dikuasinya.

Pada Minggu (29/12), militer AS yang tergabung dalam Komando Afrika AS (AFRICOM) menyatakan pihaknya telah menewaskan empat anggota Al-Shabab dalam tiga serangan udara.

AFRICOM mengatakan dua anggota Al-Shabab tewas dan dua kendaraan dihancurkan di Qunyo Barrow, sementara itu di Caliyow Barrow, lebih dari dua anggota Al-Shabab tewas. (AFP/Aljazeera/OL-09)

 

BERITA TERKAIT