31 December 2019, 07:10 WIB

Jaksa Mencari Titik Terang Jiwasraya


Faustinus Nua | Ekonomi

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
 ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jaksa Agung ST Burhanuddin.

SETELAH didesak berbagai pihak agar tidak berlama-lama menuntaskan kasus korupsi jumbo di PT Asuransi Jiwasraya (persero), Kejaksaaan Agung kemarin mulai menggali keterangan dari sejumlah saksi kunci.

“Memang benar hari ini (kemarin) dan besok (hari ini) ada pemanggilan. Wajib kami tuntaskan dan tentu kami gali berapa banyak kerugian,” kata Jaksa Agung ST Burhanuddin di Gedung Kejaksaaan Agung, Jakarta, kemarin.

Dalam kesempatan terpisah, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM-Pidsus) Adi Toegarisman menyatakan dua saksi dihadirkan sejak pukul 09.00 WIB.

“Kami sampaikan jadwal pemeriksaan hari ini dua (saksi) dan besok dua. Kemudian 6, 7, dan 8 (Januari) kami memanggil 20 orang. Kami sedang mendalami dan mencari alat bukti agar perkara ini bisa selesai sesuai aturan,” ujar Adi.

Selain itu, kejaksaan juga menjadwalkan penggeledahan terhadap kediaman 10 saksi yang sudah dicegah tangkal bepergian ke luar negeri. Menurut Adi, penggeledahan dilakukan untuk mencari alat bukti dan keterangan tambahan.

“Semua alat keterangan, saksi, dan dokumen, kami himpun untuk dipadukan dengan alat bukti saksi. Ada penyesuaian sebagai bukti petunjuk,” ungkap Adi.

Ke-10 saksi yang dicegah tangkal ialah HR, DYA, HP, MZ, DW, GL, ER, HH, BT, dan AS. Kejaksaan tidak membocorkan identitas ataupun jabatan mereka yang diduga tahu banyak soal kasus ini.

Kemarin, mantan Dirut Jiwasraya, Asmawi Syam, mendatangi Kejaksaan Agung untuk menjalani pemeriksaan setelah sebelumnya diperiksa pada ­Jumat (27/12).

“Saya pikir patut dihargai sehingga penyi­dik memeriksa dan selesai Jumat itu juga. Sudah tuntas,” ungkap Adi.

Hingga kemarin petang, di ruang pemeriksaan Kejaksaan Agung masih terdapat tiga orang yang masih diselidiki. Jaksa menggali keterangan dari ketiganya, yaitu Dirut PT Trimegah, Stephanus Turangan, Direktur PT Prospera, Yosep Chandra, dan Kepala Pusat Bancassurance Jiwasraya, Eldin Rizal Nasution.

 

Garami lautan

Kasus Jiwasraya bermula dari laporan masyarakat dan Kejati Jakarta yang mengendus dugaan korupsi di periode 2014-2018. Jiwasraya melalui unit kerja pusat bancassurance dan aliansi strategis menjual produk JS Saving Plan dengan bunga 6,5%-10% sehingga memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp53,27 triliun.

Hingga Agustus 2019, Jiwasraya menanggung potensi kerugian Rp13,7 triliun dan membutuhkan dana segar Rp32,89 triliun agar bisa mencapai rasio jumlah modal minimum yang harus dipenuhi (risk based capital/RBC) minimal 120%. Rasio ini juga sekaligus merupa­kan u­kuran tingkat kesehatan finansial per­usahaan asuransi. Berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), minimal batas RBC sebesar 120%.

Dalam laporan keuangan tiga bank BUMN pada 2018 terdapat catatan suntikan dana ke Jiwasraya. Ketiga bank tersebut ialah BRI, BNI, dan BTN di bawah koordinasi Kementerian BUMN.

Akan tetapi, meskipun mendapat infus dana segar, Jiwasraya belum mampu memulihkan kinerja keuangannya. Pengamat BUMN Toto Pranoto mengemukakan dana yang digelontorkan ketiga bank itu masih jauh dari jumlah utang jatuh tempo perseroan yang mencapai Rp12,4 triliun pada 2019.

“Kalau utang jatuh tempo Rp12,4 triliun, pinjaman ketiga bank yang cuma Rp700 miliar, ya ibarat menggarami lautan,” kata Toto. (Ant/X-3)

                                                   

BERITA TERKAIT