31 December 2019, 01:00 WIB

Masyarakat Diimbau Waspada Bencana


Atalya Puspa | Humaniora

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
 ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo.

Hidrometeorologi mendominasi bencana alam yang terjadi sepanjang 2019 di Indonesia. Meski jumlah korban bencana turun, jika dibandingkan dengan 2018, masyarakat diimbau waspada dan menyiapkan mitigasi bencana. Penurunan korban diakibatkan tidak terjadi bencana besar seperti tsunami dan gempa serta meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat.

“Dari 3.768 bencana sepanjang 2019 hingga 27 Desember, 3.731 atau 99% ialah bencana hidrometeorologi, sedangkan 37 atau satu persen adalah bencana geologi,” jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo dalam pemaparan Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook Bencana 2020 di Ruang Serbaguna Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

Agus mengatakan, jumlah bencana mengalami peningkatan dari tahun ke tahun karena banyak terjadi, dan bisa juga disebabkan BPBD makin rajin memberi laporan bencana di daerahnya.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi didominasi puting beliung, banjir, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, kekeringan, dan gelombang pasang atau abrasi.

Bencana geologi yang terjadi ialah gempa bumi sebanyak 30 kejadian dan letusan gunung api sebanyak tujuh kejadian. “Meskipun hanya 37 kejadian, bencana geologi menyebabkan dampak yang besar, khususnya gempa bumi,” jelasnya. Total kerugian akibat bencana alam yang terjadi sepanjang 2019 mencapai Rp5,5 triliun. Agus menambahkan, pada 2020, 489 kabupaten dan kota rawan mengalami banjir, sedangkan 441 kabupaten dan kota rawan terkena tanah longsor.

Antisipasi

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNPB Doni Mo-nardo mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa untuk waspada dan menyiapkan mitigasi bencana.

“Gempa bumi di Halmahera Selatan sebesar 7,2 ­magnetudo bisa menjadi pelajaran. ­Kekuatan gempa cukup besar, tetapi korban hanya 14 orang karena masyarakat setempat segera melakukan evakuasi dan penyelamatan diri saat gempa terjadi,” jelasnya.

Doni menegaskan, gempa dan tsunami merupakan ­bencana berulang sehingga wilayah yang berpotensi harus tetap waspada.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan El Nino diperkirakan akan netral sehingga tidak ada anomali cuaca di 2020. Menurut Dwikorita, curah hujan diperkirakan akan mulai meningkat mulai Januari hingga Maret sedangkan puncak musim penghujan 2020 diperkirakan terjadi pada Februari hingga Maret.

“Namun, itu tidak akan ­serentak di seluruh Indonesia, tetapi terjadi secara ­bertahap. Februari hingga Maret bahkan Aceh dan Riau akan mengalami musim kemarau,” ujar dia.

Masyarakat dan pemerintah daerah disarankan memaksimalkan kapasitas waduk, embung, dan penyimpanan air lain pada puncak musim penghujan untuk meminimalkan dampak kekeringan pada musim kemarau. (Ant/H-3)

 

BERITA TERKAIT