29 December 2019, 21:40 WIB

Penanaman Karakter Anak melalui Dongeng Sangat Efektif


Deri Dahuri | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
 Seminar Keluarga bertema 'Membentuk Karakter Anak melalui Dongeng' di di Gelanggang Olah Raga, Pademangan, Jakarta Utara, Minggu (29/12).

PEMERINTAH melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  terus menggalakkan pendidikan karakter, demi menghasilkan peserta didik yang pandai tapi juga memiliki karakter kuat sebagai warga bangsa.

Hal tersebut sesuai dengan tagline dan juga target pemerintah Presiden Jokowi .

Selain melalui pendidikan resmi di sekolah, sesungguhnya pendidikan karakter dapat juga dilakukan melalui kegiatan informal seperti mendongeng. Lewat kegiatan dongeng, penanaman nilai-nilai kebaikan, semangat menghargai sesama, dan  motivasi untuk maju, merasuk ke anak didik dengan efektif.

Pandangan tersebut dikemukakan pegiat dongeng yang juga dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, Safrudiningsih, M.Ikom ketika menjadi pembicara utama dalam Seminar Keluarga bertema 'Membentuk Karakter Anak melalui Dongeng'.

Seminar Keluarga tersebut diselenggarakan Rumah Keluarga Indonesia bekerja sama dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Gelanggang Olah Raga, Pademangan, Jakarta Utara, Minggu (29/12).

Dihadapan sekitar 130 ibu, Safrudiningsih yang akrab disapa 'Kak Ning Nong' mengatakan kebiasaan mendongeng di kalangan keluarga sudah jauh berkurang, karena itu perlu dibiasakan kembali mendongeng pada anak-anak dalam keluarga.

“Sambil mendongeng itulah, orang tua dapat memasukkan nilai-nilai karekter dan moral yang kuat pada anak. terutama peran ibu sebagai pengokoh bangsa seperti tema pada hari ini yaitu  dalam rangka Hari Ibu," kata Safrudiningsih. 

Lebih lanjut Kak Ning Nong mengatakan, dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya.

“Dongeng juga merupakan hasil rekayasa Imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi,” ujar Kak Ning Nong.

Mengutip laman wikipedia.org, Kak Ning Nong mengungkapkan, kisah dongeng sering diangkat menjadi saduran dari kebanyakan sastrawan dan penerbit, lalu dimodifikasi menjadi dongeng modern. 

“Kita bisa mendongeng sambil membacakan kisa-kisah yang ada di buku. Bisa juga kita mendongeng dari kisah nyata keberhasilan seorang anak, atau peristiwa yang penuh motivasi. Semua itu agar bisa dicontoh anak-anak,” kata Kak Ning Nong. 

Melatih mendongeng

Dalam seminar setengah hari ini, Kak Ning Nong yang aktif di Komunitas Dongeng Indonesia juga membagikan kiat-kiat bagaimana orang tua, khususnya  para bunda untuk mendongeng atau membacakan buku. Misalnya bagaimana intonasi dan vokal yang jelas dan kreatif sesuai karakter dalam cerita.

“Ekspresif juga penting seperti mimik muka, kontak mata, dan bahasa tubuh, gunakan efek drama seperti tertawa, merengek, berbisik, sedih, dan lain-lain. Semua itu untuk menarik perhatian anak-anak mendengarkan dongeng kita,” tutur Kak Ning Nong.

Hal yang cukup penting, menurut  Kak Ning Nong, orang tua juga harus memiliki rasa humor yang tinggi dan melibatkan anak dalam mendongeng. Misalnya kapan dia harus mengingat, meneruskan kalimat, mengulang, menebak alur, dan berlatih menilai karakter dan yang dilakukannya

.Kiat lain yang dibagikan Kak Ning Nong adalah dalam mendongeng kita  jangan membuat kesan  menggurui sehingga alur cerita dongeng mengalir  dengan alami.

Di samping kegiatan diskusi mengenai 'Membentuk Karakter Anak melalui Dongeng' untuk para bunda, anak-anak pun mengikuti kegiatan lomba mewarnai dan kegiatan lain yang sangat menyenangkan.

Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Wilayah Jakarta Utara dalam mewujudkan ketahanan keluarga Indonesia yang kokoh, harmonis, dan berkualitas memiliki delpan program unggulan yakni pembekalan pranikah, harmonisasi suami-istri, pendidikan orang tua dan anak, sahabat anak dan keluarga, konseling dan advokasi, pos ekonomi keluarga, pembinaan  lansia, dan pendidikan politik. (OL-09)

BERITA TERKAIT