30 December 2019, 15:29 WIB

Museum Tsunami Ramai Dikunjungi Wisatawan


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

Antara
 Antara
Pengunjung menyaksikan pameran foto kebencanaan karya jurnalis foto dari berbagai media di Museum Tsunami Banda Aceh. 

MENGISI liburan akhir tahun 2019, banyak wisatawan mengunjungi situs peninggalan tsunami Aceh. Termasuk wisatawan asing yang ingin tahu seperti apa sisa-sisa bukti tsunami dahsyat melanda Aceh.  Lokasi bekas tsunami atau bukti peninggalan bencana kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah yang paling banyak dikunjungi adalah Museum Tsunami di Banda Aceh, PLTD Apung Punge Blang Cut, kapal kayu nelayan di atas rumah warga Lampulo, dan kubah berbobot 80 ton hanyut di Desa Gurah, Peukan Bada.

Adapun di Museum Tsunami Banda Aceh, banyak turis asing tercengang dan haru saat menonton video peristiwa tsunami yang diputar oleh petugas. Apalagi sebelum sampai di ruangan pemutaran video mereka lebih dulu melewati terowongan yang di pinggir kiri kanannya mengalir air. Dan terdengar suara seolah-olah pengunjung sedang merasakan suasana tsunami.

Bukti sejarah tsunami lainnya yang ramai dikunjungi yaitu Kota Sigli, Kabupaten Pidie. Di antaranya Monumen Tsunami di Pesisir Pantai Selat Malaka yang lokasinya persis di depan Pendopo Bupati Pidie dan pameran foto tsunami di halaman monumen setempat. Adapun wisatawan dari mancanegara berasal dari Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Australia, Belanda dan Jerman. Umumnya para pengunjung mengunjungi jejak tsunami membawa serta anak-anak.

"Karena saat itu anak-anak belum lahir. Mereka hanya tahu lewat cerita kita, tentu berbeda dengan kita pada zaman itu. Rumah saya rata dengan tanah tersapu tsunami. Mekanya saya bawa anak untuk melihat foto-foto ini" tutur Muslimah, perempuan asal Sigli saat membawa anak perempuannya melihat pameran foto di Monumen Tsunami.

baca juga: BPBD Cianjur Siagakan Alat Berat di Titik Rawan Longsor

Pameran foto sangat diminati para pengunjung baik dari warga sekitar maupun dari luar negeri.

"Pameran foto kami selenggarakan selain untuk mengenang 15 tahun Aceh berlalu. Juga sebagai edukasi anak-anak sekarang dan bagi yang ingin mengetahui dahsyatnya tsunami. Banyak yang menginginkan pergelaran pameran foto ini diperpanjang beberapa hari lagi," kata Maimun Ibrahim, Kepala Bagian Telekomunikasi dan PDE Kabupaten Pidie. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT