29 December 2019, 23:40 WIB

Warga Yahudi Jadi Target Serangan


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

Kena Betancur / AFP
 Kena Betancur / AFP
Joseph Gluck (kanan) berbicara kepada awak media saat terjadi penikaman oleh seseorang di rumah seorang pemuka agama Yahudi di New York.

KASUS penusukan massal terjadi saat sekelompok warga merayakan Hanukkah di rumah seorang pemuka agama Yahudi di New York, Sabtu (28/12) waktu setempat.

Lima korban, yang berasal dari aliran Hasidic, dirawat di rumah sakit setempat. Organisasi Yahudi setempat (OJPAC) menyebut dua dalam kondisi kritis. Kepolisian New York telah menahan seorang pelaku.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengutuk serangan yang dianggapnya ‘pengecut’ terse­but. Ia meminta polisi unit kejahatan kebencian untuk menyeli­diki kasus itu.

“Tidak ada toleransi untuk antisemitisme di New York. Pelakunya harus diadili sesuai hukum,” tegasnya di Twitter.

Menurut laporan CBS New York, seorang pria yang bersenjatakan parang masuk ke rumah rabi di Monsey, New York. Kawasan itu dihuni banyak orang Yahudi.

Pelaku itu kemudian membacok para korban sebelum melarikan diri.

“Saya sangat takut,” kata seo­rang saksi, Aron Kohn, 65, kepa­da harian New York Times. Ia menyebut pelaku membawa senjata tajam yang besar.

Salah seorang pendiri OJPAC di wilayah Hudson Valley, Yossi Gestetner, menyebut salah seorang korban merupakan putra dari sang rabi.

“Saat itu ada lusinan orang di dalam rumah. Mereka sedang merayakan Hanukkah,” katanya.

Serangan meningkat

Serangan itu muncul di saat kepolisian Amerika Serikat sedang menyelidiki peningkatan kejahatan terhadap target-target Yahudi.

Seorang pria kulit putih menyerbu sebuah sinagog di Pittsburg tahun lalu dan membunuh 11 orang.

Kasus itu menjadi serangan paling mematikan yang pernah menimpa komunitas Yahudi di Amerika Serikat.

Kemudian enam orang terma­suk dua pelaku terbunuh di Jersey City awal bulan ini akibat penembakan di sebuah rumah makan Yahudi. Polisi menyebut kasus itu disebabkan antara lain oleh antisemitisme.

Laporan dari Anti-Defamation League (ADL) pada April 2019 menyatakan jumlah serangan antisemitik di 2018 hampir menyamai rekor di 2017 dengan 1.879 serangan.

Jonathan Greenblat selaku Direktur ADL kemudian meminta pihak berwajib di Amerika Se­rikat untuk makin sigap melindungi komunitas-komunitas Yahudi.

Terkait meningkatnya serangan kebencian di New York, Wali Kota Bill de Blasio telah mengumumkan bahwa kepolisian akan meningkatkan patroli di tiga daerah dan memperketat penjagaan di rumah-rumah ibadah.

Setelah serangan terbaru ini, Blasio juga menulis di Twitter bahwa dirinya telah berbicara dengan seorang kawan lama Yahudi yang merasa takut beribadah secara terbuka.

“Kami tidak akan membiarkan mereka takut. Kami akan lakukan berbagai upaya untuk melindungi mereka dari serangan,” tulis Blasio.

Meski demikian, komitmen Blasio itu belum mampu menghapus ketakutan soal akan berlangsungnya persekusi di Amerika Serikat maupun negara lainnya.

Sementara itu, Presiden Israel Reuven Rivlin menyatakan ‘terkejut dan marah’ atas terjadinya serangan di New York.

“Bangkitnya serangan antisemitisme bukan hanya masalah untuk warga Yahudi atau warga Israel. Kita harus bekerja sa­ma melawan kejahatan ini yang merupakan ancaman nyata terhadap dunia,” tegas Presiden Rivlin. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT