29 December 2019, 21:45 WIB

Sayap Perempuan: Indonesia Darurat Kekerasan Seksual


 Atalya Puspa | Humaniora

ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
 ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Bangkit Menggugat berunjuk rasa di kawasan Monas, Jakarta, Minggu (22/12).

SEPANJANG 2019, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kekerasan seksual di pendidikan berjumlah 21 kasus dengan jumlah korban mencapai 123 anak, terdiri dari 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki.

Berkaitan dengan itu, aktivis dari Sayap Perempuan Evie Permatasari menilai, saat ini Indonesia telah darurat kekerasan seksual. Bukan hanya melihat dari laporan KPAI, namun juga di Unit Perlindungan Perempuan di Polda atau laporan di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Komnas Perempuan.

"Angka ini bisa jadi seperti puncak gunung es saja, belum angka dan jumlah riil termasuk fakta dilapangan yang bisa jadi jauh lebih besar," kata Evie kepada Media Indonesia, Minggu (29/12).

Mirisnya, lanjut Evie, pelakunya kebanyakan dari orang-orang yang mempunyai hubungan dengan korban atau orang yang dikenal korban.

Baca juga: KPAI: Sekolah Rawan Pelecehan Seksual

Untuk itu, Evie merasa penting bagi pemerintah untuk mengatasi isu kekerasan seksual secara serius.

"Menurut saya, penting memberikan edukasi atau pendidikan seksual sejak dini dengan informasi yang sesuai dengan usianya. Informasi yang diberikan bisa pengetahuan tentang organ reproduksi, pemahaman anak akan kondisi tubuhnya, pemahaman tentang lawan jenisnya, termasuk pemahaman untuk menghindari kekerasan seksual," tutur Evie.

Selain itu, dirinya menilai pemerintah perlu mendorong RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi Undang-undang agar dapat memberikan payung hukum untuk melindungi korban kekerasan seksual, terutama pada anak-anak. (A-4)

BERITA TERKAIT