29 December 2019, 13:37 WIB

Iklim Bisnis Domestik Diprediksi Kondusif 12 Bulan Mendatang


Mediaindonesia.com | Ekonomi

Antara
 Antara
Menguat: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (27/12) ditutup menguat 0,16 persen atau 9,87 poin ke level 6.329,31. 

IKLIM bisnis dalam negeri setelah pelantikan presiden-wakil presiden 2019-2024 serta pengumuman kabinet baru dinilai cukup kondusif. Hal itu terungkap berdasarkan laporan International Business Report (IBR) untuk Semester II Tahun 2019 dari Grant Thornton Indonesia.

Dalam laporan tersebut, tercatat ada lonjakan ekspektasi pelaku bisnis Indonesia atas keuntungan usaha yang mencapai 84% dari survei periode sebelumnya di 70%.

Angka tersebut merupakan rekor tertinggi dari survei-survei IBR sebelumnya, serta jauh lebih tinggi dari angka rata-rata ASEAN dan Asia Pasifik yang ada di angka 69% dan 54%.

Baca juga:Skema Upah Per Jam Khawatir Timbulkan Kemiskinan Struktural

Tren positif juga diikuti dengan meningkatnya ekspektasi pendapatan pelaku bisnis Indonesia sebanyak 2 poin dari 85% pada laporan di periode sebelumnya menjadi 87% di periode kali ini.

Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia mengatakan, ekspektasi pendapatan maupun keuntungan usaha yang positif melanjutkan tren kenaikan dari laporan di periode sebelumnya.

"Hal tersebut menunjukkan signal positif dari market atas perkiraan iklim usaha yang kondusif untuk 12 bulan mendatang," demikian kata Johanna dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia di Jakarta, Minggu (29/12).

Optimisme pelaku bisnis Indonesia juga menempati posisi tertinggi kedua secara global setelah Vietnam dan berada di level 78%, jauh di atas rata-rata negara Asia Pasifik dan ASEAN yang masing-masing berada di level 56% dan 59%.

Dalam hal kendala utama potensial untuk bisnis selama 12 bulan ke depan, ketidakpastian global ekonomi adalah yang paling sering dikutip oleh responden dengan 44% menyoroti sebagai risiko utama, karena memberikan pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Namun, angka tersebut turun dari 55% di H2 2018.

Sekitar sepertiga dari perusahaan juga mengidentifikasi kekurangan keterampilan dan biaya tenaga kerja sebagai kendala potensial, meskipun demikian angka tersebut masih berada di bawah rata-rata ASEAN dan Global serta telah turun jika dibandingkan dengan survei di periode sebelumnya semester awal 2019.

Berbagai respon positif yang ditunjukkan pelaku usaha dari sisi optimisme bisnis serta harapan atas pendapatan dan keuntungan ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi atau gross domestic product (GDP) Indonesia tahun ini yang diperkirakan naik menjadi 5.2%.

“Indikator makro positif dan antusiasme dari sisi pelaku usaha adalah resep untuk optimisme bisnis yang akan berimbas positif terhadap pasar, hal tersebut menjadikan Indonesia salah satu negara dengan kemungkinan pertumbuhan ekonomi terbesar di tahun depan,” pungkas Johanna. (RO/A-5)

BERITA TERKAIT